Beranda > Info, ceritaKu, pikiranKu > Siapa Bung Hatta Baru???

Siapa Bung Hatta Baru???

Minangkabau merupakan daerah yang terletak di provinsi sumatera barat, sebagian provinsi Jambi, Bengkulu, Riau. Minangkabau merupakan suku Bangsa di Indonesia yang menganut sistem matrilineal, yaitu garis keturunan sukuk melalui ibu. Minangkabau terkenal dengan filosofi adatnya kato nan ampek, yaitu suatu budaya masyarakat yang membagi cara dan santun berbicara menjadi empat. Yaitu: Kato Mandaki, merupakan kato yang dipakai untuk berbicara dengan orang yang umurnya lebih tua dari kita. Gaya bicara ini bersifat hormat kepada lawan bicara. Kato Malereang, merupakangaya bicara yang digunakan kepada orang yang disegani, semisal urang sumando, besan dll. Gaya bicara ini menggunakan tutur bahasa yang bersifat santun kepada lawan bicara. Kato Mandata, kato ini biasanya dipakai kepada teman sebaya dan teman sepergaulan. Kata ini biasanya lebih bersifat santai dan akrab. Gaya bicaranya bisa blak-blakan dan to the point kepada lawan bicara. Kato Manurun, kato ini dipakai untuk berbicara dengan lawan bicara yang umur nya lebih kecil dari kita. Gaya bahasa nya bisa lebih halus,bisa juga tegas tergantung kondisi pembicaraan. Intinya kato ini menunjukan kasih sayang kita terhadap orang yang lebih kecil dari kita.

Filosofi lain yang menjadi fondasi kehidupan orang minangkabau yaitu, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Filosofi ini menjelaskan bahwa semua aspek kehidupan minangkabau yang telah menjadi tradisi/budaya, dalam hal ini kita sebut adat, semuanya berdasarkan agama Islam. Hal ini tentu saja jarang digunakan oleh suku-suku lainnya di indonesia. Minangkabau yang mempunyai adat dan budaya yang tinggi nilainya juga berbasiskan agama, yang dimaksud agama disini adalah agama Islam. Maka dari itu tidak heran kita bahwa suku minangkabau dulunya banyak menghasilkan tokoh-tokoh Islam yang menjadi panutan orang se-Indonesia, semisal buya hamka.

Alam takambang jadi guru, hal ini merupakan sesuatu yang bermakna bagi kita. Ternyata orang minangkabau itu selalu belajar dari alam. Banyak hal-hal yang dapat kita pelajari dari alam. Bahkan dari segi kesenian banyak yang bersumber dari alam, semisal tari, alat-alat musik dsb. Hal ini menunjukkan bahwa kreatifnya bangsa minangkabau yang dapat memanfaatkan alam demi meningkatkan ilmu pengetahuan mereka. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya perempuan-perempuan minangkabau melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa seperti Bung Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka, M. Yamin dll. Mereka adalah founding Father dari negara kita, Indonesia.Image Hosted by ImageShack.us

Akan tetapi faktanya sekarang banyak generasi muda minangkabau yang telah kehilangan identitas dan jati dirinya. Mereka cenderung bertransformasi menjadi pemuda yang ke barat-baratan yang lupa dengan adat istiadatnya. Mereka lebih memilih budaya luar yang belum disaring menjadi kebiasaan mereka sehari. Mereka banyak yang tidak tertarik dengan budaya mereka sendiri, bahkan malu untuk melanjutkan budaya mereka sendiri. Mana bung hatta baru (founding father indonesia)??? Mana sutan syahrir selanjutnya (perdana menteri indonesia)??? Mana M. Yamin muda(pencetus pancasila)???? dimana tan malaka baru(bapak RI)??? diamana bundo kanduang- bundo kanduang kita???

mungkin krisis moral yang banyak terjadi terhadap pemuda-pemuda minang ini yang menyebabkan gersangnya pemimpin dan tokoh2 nasional yang berdarah minang pada saat sekarang ini.

djajalah MinaNgKabaU!!!

Categories: Info, ceritaKu, pikiranKu
  1. 2 Maret 2008 pukul 21:41 | #1

    Halo catra,

    gama rasa, akar permasalahannya adalah karena budaya kita tidak di create secara kreatif sehingga dapat cope with perkembangan zaman, di mana modernitas identik dengan western life style.

    akhirnya, adat istiadat terkesan tua, basi dan berkarat, dipeti emaskan di museum. adat kehilangan dinamikanya yang harusnya bisa dinamis.

    kato nan ampek harusnya bisa diselaraskan dengan internet dan hp, dimana komunikasi dan media apapun antara sesama harusnya tetap menjunjung prinsip tersebut.

    alih-alih menyalahkan generasi muda sekarang, gama lebih melihat ini sebagai tantangan buat kita untuk berkreativitas, untuk mengkonasikan adat, agama dan life style sehingga tidak terlihat ndeso, dan menarik dan trendy, serta memupuk jiwa partiotisme kita pada ranah minang ini….

    masih dalam konsep teori memang,

  2. catra
    2 Maret 2008 pukul 21:56 | #2

    @ bg gama

    kalau menurut catra, kebanyakan remaja sekarang tidak bangga lagi dengan identitas minang nya.

    tidak senang lagi memainkan randai, tidak suka mendengarkan lagu2 minang dll.

    catra penasaran dengan pengaruh dulu pemberontakan PRRI, apakah pasca pemberontakan itu orang minang jadi minder dengan menyandang status sebagai orang minang??? hingga sekarang culture itu orang padang tidak mau eksis di forum2 nasional.

    dan tidak ada lagi tokoh2 nasional seperti bung hatta. m yamin dll, di pentas nasional

  1. 13 Mei 2008 pukul 09:31 | #1
  2. 5 September 2008 pukul 04:26 | #2