Beranda > Info, ceritaKu, pikiranKu > Belum Punya Judul

Belum Punya Judul

Bebarapa waktu yang lalu saya pergi ke Paris Van Java Mall, salah satu mall besar di Bandung. Saya menilai mall ini merupakan mall terbaik di Bandung. Mall ini memakai konsep dan gaya bangunan eropa. dari Bangunannya tidak tinggi seperti mall2 lainnya tapi cukup luas. Mall ini paling banyak dikunjungi oleh WNI keturunan. Saya berasa berada di luar negeri karena suasananya yang gak Indonesia banget. Adanya band-band indie dan band-band nasional yang menghibur pengunjung membuat pengunjung makin betah mengunjungi mall ini. Di tambah juga dengan adanya blitz megaplex, karaokean inul vizta dan klab malam tempat dugz para dugemer.

Puluhan SPG entah dari produk apa, pakaian-pakaian dari brand-brand terkenal, kafe-kafe dan resto dengan masakan luar negeri dengan konsep outdoornya yang selalu dipenuhi dengan pengunjung. Sedikit miris saya memandangnya. Kenapa? Tepat diluar sana, keluar gerbang dan belok kanan kita akan menemui pasar sukajadi di jalan sukajadi. Kontras banget dengan keadaan di dalam tadi. Tidak ada para SPG, tidak ada para WNI keturunan dengan pakaian seronok. Tidak ada toko-toko yang menjual produk dengan brand terkenal.

Seperti kata dosen fisika saya adanya perbedaan potensial yang tinggi. Kita harus hati-hati karena perbedaan potensial yang tinggi akan membuat percikan api dan menghasilkan daya listrik yang mematikan. Sangar juga ya mendengar akibatnya. Tapi kurang lebih hal ini akan menimbulkan kesenjengan sosial yang nantinya akan menjadi konflik sosial yang tak terhindarkan. Seperti pada tahun 1998 dulu, sebelumnya kelihatan damai saja. Ternyata seperti api dalam sekam. Banyak kebencian-kebencian yang bersemi dan ketidaksenangan melihat kaum borju menari-nari di atas penderitaan orang.

Pada tahun 1998 banyak toko-toko WNI keturunan dijarah, dibakar, dan bahkan ada juga pemiliknya yang sampai diperkosa. Itulah bentuk sebuah perlawanan masyarakat kelas bawah yang telah memuncak. Lapangan pekerjaan yang sangat susah dicari. Taraf Pendidikan yang sangat rendah dan pola pikir masyarakat yang belum maju.Sebenarnya, menurut saya, kaum borjuis dan orang-orang dengan kemampuan menengah ke atas menggandeng anak negeri ini yang belum mendapat pekerjaan atau mempekerjakan mereka. Bukan menghambur-hamburkan devisa dengan belanja di luar negeri dengan sikap konsumtif yang tinggi. Dengan memanfaatkan tenaga kerja yang melimpah di negeri ini.

Sehubungan dengan lapangan pekerjaan, Semalam saya mendapat beberapa pelajaran berharga, saya menonton acara kick Andy yang diundang ke kampus saya. Ada beberapa perbincangan yang serasa menusuk hati saya dan merubah paradigma saya selaku mahasiswa. Bebarapa hal itu diantaranya, janganlah kita berbangga bekerja di perusahaan asing dengan pemimpinnya bule sekretarisnya bule bahkan supirnya juga bule, begitulah kira-kira gambarannya. Kenapa? Karena seharusnya negara kita ini seharusnya perusahaan-perusahaan besar dipimpin oleh anak negeri. Contohnya perusahaan-perusahaan minyak asing. Kita seharusnya menguasai ladang minyak kita sendiri, mengekplorasinya sendiri dan mengolahnya sendiri tanpa mengandalkan investasi asing.

Dengan menguasai teknologi dan ilmu kita harus bisa menguasai ladang-ladang kita sendiri. Satu lagi kata om Andi yang membuat saya termenung. “Para mahasiswa ITB sebenarnya mahasiswa yang paling banyak dosa, kenapa? Karena mereka telah menyisihkan saingan-saingannya menuju perguruan tinggi.” Dan setelah lulus mereka tidak menggandeng orang-orang yang mereka sisihkan itu untuk membuat suatu lapangan kerja, tapi malah bersaing lagi dalam mencari kerja” pesan yang saya dapat yaitu, para lulusan ITB seharusnya dapat membuat inovasi tersendiri setelah bergabung di dunia nyata. Banyaknya lulusan ITB dari tahun 70an yang sudah menjadi orang pun dituntut juga seperti itu.

Artinya para lulusan ITB juga harus memperhatikan negeri ini dengan membuat lapangan kerja baru bukan malah mencari kerja.

  1. Sutan Rajo di Langik
    23 Maret 2008 pukul 21:39 | #1

    tahu nggak, kalau paradigma berpikir lulusan ITB, kebanyakan adalah “Selesai kuliah, gw harus cari kerja dengan penghasilan yang besar”
    masalah anak negeri, itu pembicaraan ketika masih mahasiswa….

  2. catra
    23 Maret 2008 pukul 22:56 | #2

    @ sutan rajo dilangik,
    disitu dia jiwa kewirausahaan dan enterpreneur anak ITB diuji ketika terjun ke masyarakat

  3. 26 Maret 2008 pukul 15:26 | #3

    kadang idealisme tak berlaku ketika kita berada dalam suatu realita

    maka dari itu,tugas mahasiswa lah untuk berpikir dalam kerangka idealis dan realis

  1. Belum ada trackback.