Tepat pada waktu pengumuman SPMB a long time ago, saya terlonjak. saya berhasil dan lulus di pilihan pertama saya, teknik mesin ITB, sujud syukur saya lakukan berkali-kali. selama berbulan-bulan saya girang bukan kepalang. sesampainya saya mencicipi kuliah di kampus gajah duduk ini, lama-kelamaan saya merenung, apa sih yang kita banggakan jadi mahasiswa ITB? saya bukan bermaksud menjelek-jelekan almamater saya sendiri, tapi kebanyakan di saringan awal aja sewaktu cari kerja udah kalah sama mahasiswa swasta-swasta yang kebanyakan IP nya di atas 3. di ITB? jangankan untuk summa cumlaude, untuk cumlaude atau yang memuaskan aja tidak menjadi mayoritas dari semua lulusan. di lomba-lomba nasional, kebanyakan kalah sama universitas lain di Indonesia. kontes robot, lomba karya ilmiah dan lomba-lomba lainnya.
apa-apaan sih, katanya inputnya para putra-putri terbaik bangsa. bukannya putra-putri terbaik bimbel atau terbaik dana. maaf saya disini tidak menyinggung teman-teman saya yang dari USM. Dosen kalkulus saya juga pernah cerita pernah kelas nya mendapat nilai rata-rata terendah karena disitu banyak angkatan 45 (angkatan yang masuk dengan uang minimal 45 juta, red). Saya juga tidak meragukan kapasitas teman2 USM. tapi saya sangat menyayangkan kenapa dengan input yang bagus para mahasiswa ITB memble ketika terjun ke lomba-lomba nasional.
ITB hanya memiliki nama besar – ketika diadu dalam suatu ajang dengan universitas lain biasanya memble; bahwa ITB tidak atau jarang sekali menghasilkan karya nyata; bahwa mahasiswa ITB bisa menguasai segala bidang kecuali bidang ilmunya sendiri
, kata seorang mahasiswa ber IPK 4 ITB. selanjutnya ia juga berkata,
Dengan input yang lebih baik, seharusnya dengan sistem yang lebih kurang sama, akan dihasilkan output yang lebih baik pula. Karena yang terjadi tidaklah demikian, berarti memang terjadi masalah dalam sistem pendidikan di ITB. Hal yang seharusnya tidak perlu ditutup-tutupi, melainkan perlu dibahas mendalam agar dapat menemukan solusi bersama
mungkin ga etis kalau saya yang masih hijau bicara soal ini. Nih runner up ganesha prize 2007 bicara biar lebih lengkapnya baca aja deh artikel nya disini
5 April 2008 pukul 14:53 |
Well, this is Indonesia, bro…
7 April 2008 pukul 17:15 |
ITB memble ketika terjun ke lomba2?
Gak mungkinlah ITB harus menang semua lomba.
Loe dah pernah denger Lomba desain chip di jepang itb juara, terus loreal e-straat challenge, mahasiswa KMPN itb juara lomba UAV di jepang.
7 April 2008 pukul 17:38 |
Saya kira tidak ada yang tidak etis disini. Anda berhak bicara seperti ini, apalagi didukung oleh fakta-fakta. Oleh sebab itu, dalam posting saya di blog saya yang berjudul “Apa yang bisa saya banggakan dari ITB?” saya hanya menulis kejujuran yang masih menjadi gejala umum, sementara di kampus lain mungkin sudah banyak dirusak oleh pribadi-pribadi yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi.
Saya tidak berani membanggakan kualitas lulusan, penelitian, hasil karya (walaupun banyak prestasi internasional yang beberapa tahun terakhir berhasil diraih mahasiswa ITB), apalagi sistem pendidikan dan kualitas dosennya.
Mengenai angkatan 45, setahu saya materi dan mekanisme test-nya malah lebih baik dari SPMB/UMPTN. Dan di STEI (Elektro), kami, dosen, tidak tahu, mana angkatan 45 atau bukan. Jadi, seandainya ada kenakalan dalam proses penerimaannya, pasti gugur dengan sendirinya.
Anda berhak malu atau bangga…, tidak ada yang melarang. Anda juga boleh bicara apapun sepanjang didukung oleh fakta. Yang lebih penting anda harus punya dedikasi yang tinggi untuk ikut membangun bangsa yang sedang sakit ini! Dengan cara apa? Sayapun tak tahu cara yang efektif, ya…, sementara membuat tulisan yang bertanggungjawab di blog menurut saya adalah suatu kontribusi yang berharga.
Ya, itulah sebagian potret negara ini….
Salam,
Arry Akhmad Arman.
http://kupalima.wordpress.com
7 April 2008 pukul 19:09 |
to pak Arry : thanks atas sarannya pak
to a’ Rizli: alhamdulillah KMPN bisa buat nama harum ITB di dunia internasional
7 April 2008 pukul 20:19 |
Yupp.. mari kita tetap semangat berkarya
8 April 2008 pukul 10:09 |
wah, ada angkatan 45 nya juga yah? ternyata sami mawon dengan almamater saya
tapi, teuteubh… kayaknya itebe lah kampus yang paling bisa dibanggakan di negri ini.
untung jaman saya kuliyah dulu angkatan2 pejuwang (45, 65, 75 dlsbg) di kampus saya belom ada/ banyak, sehingga masih ada slot buwat orang desa seperti saya
9 Mei 2008 pukul 16:40 |
sorry slah tuh kmpn juara lomba UAV di taiwan bukkan di jepang,,,
8 Juni 2009 pukul 03:16 |
mas, setahu saya sistem usm lebih baik dan kompeten. Soal2 usm sendiri dibakar setelah ujian dan disegel rangkap, pun soalnya tidak seperti tes lainnya. Lebih menitik beratkan pada konsep, bukan rumus.
Dengan pengetahuan yang buta tentang soal, dan tidak hanya rumus tapi pemahaman yang mendalam, USM lebih objektif.
Anda bayangkan mengerjakan soal yang anda tidak tahu bentuknya dan anda lulus, itu membanggakan.
masalah kuliah, itu masalah pribadi.