Beranda > ceritaKu, pikiranKu > Arti Sebuah Kepunyaan

Arti Sebuah Kepunyaan

Saya yakin masing-masing kita telah diberikan kecukupan yang proporsional oleh Yang di Atas, saya telah diberi karunia ini, ia telah dikasih fasiltas ini, mereka telah diberi kemudahan itu, semua telah diberi fasilitas yang terkadang hambanya tidak berpikir bagaimana ia telah diberi kecukupan yang patut untk disyukuri. Memang, sebagai manusia yang secara ekonomi tidak memiliki rasa puas dalam mencapai kesejahteraan. Namun terkadang hambanya ini malah melupakan dengan apa yang telah diberikan kepadanya.

Saya lama berpikir tentang itu, terdiam, merenung. Ternyata saya baru menyadari akan penting dan berharganya barang-barang yang saya punya setelah saya kehilangannya. Setelah barang itu rusak karena keteledoran saya. Setelah barang itu berpindah tangan kepada yang orang yang tak bertanggung jawab.

Jujur saja, saya merupakan orang yang “cayah” (cuek) sama barang kepunyaan saya. Tidak menjaganya, tidak memeliharanya, serta tidak menyayanginya. Beberapa waktu yang lalu, saya hampir saja kehilangan laptop saya, hal itu terjadi hanya karena saya lupa menaruh tas saya sewaktu latihan pergelaran dies unit di kampus. Beberapa waktu yang lalu, handphone saya juga nyaris rusak dan konslet masuk air setelah tercebur ke dalam kolam. Sesaat setelah kejadian-kejadian tersebut, sewaktu saya panik mencari dimana tas saya, sewaktu saya panik mendapati handphone saya konslet pikiran saya berkecamuk tidak karuan, kenapa saya lali, kenapa saya tidak menjaganya kenapa saya tidak menyayanginya. Apakah saya akan mendapatinya seperti semula lagi. Panik.begitu juga dengan orang yang kita cintai, orang tua kita saudara kita maupun orang yang spesial bagi kita, selama kita masih memiliknya kita seakan mengabaikannya, dan bahkan tidak menghargainya. Ego yang sebenarnya tidak diletakkan ditempatnya. Sesaat saya berpikir, merenung akan arti sebuah kepunyaan, apakah anugerah yang kita miliki ini adalah sesuatu yang berarti bagi kita. Mengapa kita menyia-nyiakan kehadirannya. Kenapa kita selalu mengabaikannya.

  1. catra
    26 April 2008 pukul 11:30 | #1

    Tuhan… tuhan…
    saya rindu kamu, ingat nggak sama saya?
    yang selalu menyanyikan lagu dan pujian buat kamu di atas pohon jambu belakang rumah?
    sekarang saya lagi rindu kamu

  2. 26 April 2008 pukul 15:51 | #2

    Bersyukur… Saya juga orang yang sering lupa untuk bersyukur. Sering merasa ”tidak cukup”. Soal memelihara barang2 pribadi: saya punya cukup koleksi buku yang saya kumpulkan waktu masih kuliah di surabaya. Kalau ada teman yang minjam tdk ngembalikan, saya suka tak enak hati mengambilnya lagi (saya jarang bisa bersikap asertif). Padahal sekarang di sini tak bisa lagi ngumpulin buku2 macam itu. Buat yg suka pinjam barang orang, kembalikan dong!

  3. m4rino
    26 April 2008 pukul 20:38 | #3

    Orang bule suka ngomong gini nih :
    “You never miss the water until it’s gone”
    Kata2 itu bener banget. Persis kayak kejadian kamu, Cat. Aq juga sering merasa kayak gitu giliran ada barang yang rusak atw hilang
    Jadi ingat Nokia 3660-ku tersayang yang udah almarhum gara2 aku ajak hujan2an…

  4. catra
    26 April 2008 pukul 21:02 | #4

    @pak suhadi : saya juga sering kayak gitu pak, ga enakan kalau nagih barang kita yang dipinjam orang. dan akhirnya barang itu gak kembali2 deh :-(

    @ni Shinta : uni thanks ya quoted-nya, catra tampilin di side bar yahhh

  5. imoe
    27 April 2008 pukul 21:54 | #5

    hahahahha nah tuh mulai kena batunya…ingat pengalaman kita keliling-keliling indonesia ini dan setiap tempat catra ninggalin barang

  6. catra
    27 April 2008 pukul 22:13 | #6

    @bg imoe: bener bgt bg, semoga catra lebih peduli lagi sama barang2 catra

  7. m4rino
    28 April 2008 pukul 10:08 | #7

    weleh… bersemangat sekali sampai ditampilin di sidebar :mrgreen:
    sepertinya pengalaman kehilangan tas yang kemarin berkesan banget y…

  8. 4 Mei 2008 pukul 12:04 | #8

    to ni shinta: thanks yaa quoted nya… :D

  1. Belum ada trackback.