oleh : Catra Prathama
Tertarik saya membaca artkel kompas hari ini, judulnya rada-rada mirip dengan novel karya AA Navis, robohnya surau kami. dan saya pun sengaja menamakannya part 2 karena judul yang sama telah di ambil kompas. Berkaitan dengan hari pendidikan nasional hari ini, saya juga akan berceloteh masalah runyamnya masalah pendidikan di Indonesia yang apabila masih hidupnya ki Hajar Dewantara diapun akan menangis melihatnya.
Beberapa waktu yang lalu siswa SMA baru saja menyelesaikan Ujian Nasional. Ada yang menangis ada yang takut ada yang harap-harap cemas, beragam perasaan ditunjukkan oleh mereka. Perasaan mereka dipengaruhi oleh ketakutan apabila nantinya mereka tidak lulus dalam ujian itu. Lho??
Ada apa dengan sistem pendidikan kita sehingga kelulusan pun hanya ditentukan oleh tiga hari ujian, proses tiga tahun belajar hanya dibuktikan dengan waktu yang tiga hari. Dimana letak proses pendidikan itu, pendidikan adalah memerdekan suatu individu. Bukan mengejar target belaka. Sesudah UN pun para siswa juga akan berbondong-bondong untuk ikut intensif menuju SPMB, mereka akan dilatih soal-soal yang nantinya diprediksi akan keluar di SPMB. Dikemanakan proses belajar tiga tahun mereka di SMA, kalau begitu tidak usah saja mereka menghadiri proses belajar-mengajar 3 tahun cukup mereka belajar mandiri, belajar di luar (katanya guru2 di luar sekolah lebih bagus), membantu orang tua berjualan di rumah, tidak ada jajan, tidak ada ongkos ke sekolah, tidak perlu beli seragam kalau memang hanya dibuktikan dengan tiga hari ujian. Dengan modal membahas soal dan indikator soal yang bakalan keluar UN. Hal ini sungguh telah membelenggu siswa oleh target, lulus.
Bagaimana dengan fasilitas pendidikan, disini saya mengungkapkan kekecewaan saya terhadap fasilitas pendidikan yang ada di negeri ini. ada yang sekolah kayak kandang ayam, ada yang memang kandang, malamnya kandang, siangnya kelas. Ada yang hampir roboh. Bahkan ada yang telah roboh dan tewas dan luka-lukanya siswa. Dari segi kelengkapan belajar, minimnya buku-buku pelajaran, rendahnya akses siswa terhadap media pengetahuan. Bagaimana dengan kondisi sekolah-sekolah di kota besar. Para kepala sekolah berebut memasukkan proposal dengan proyek besar pengadaan fasilitas sekolah. Dan setelah diterima dana tersebut direkayasa dengan tidak merealisasikan proyek tersebut. Dalam penerimaan siswa baru, siswa diberatkan oleh sumbangan awal yang cukup besar, apalagi jika sekolah itu sekolah negeri dan sekolah favorit, sekolah itu akan memasang tarif yang tinggi untuk siswa yang masuk ke sekolah itu. Dengan dalih otonomi sekolah. Para kepala sekolah ibarat mempunyai wewenang menentukan uang masuk ke sekolah itu dengan nama uang komite sukarela(ssstt.. pembayarannya ga suka rela lho, tapi wajib).
Bagaimana dengan guru? Saat ini menjadi guru bukan lagi impian dan cita-cita, anak kecil saja jika ditanya kebanyakan menjawab dokter, presiden, pilot. Tidak ada lagi paradigma bahwa menjadi guru merupakan profesi yang mulia.kebanyakan siswa-siswa yang pintar melanjutkan pendidikan ke teknik, kedokteran, ekonomi dll. Jadi guru? Entahlah jika itu ada di dalam pikiran para siswa kelas XII. Kabarnya sih yang masuk IKIP, STKIP, UNJ. Dan universitas yang mempunyai fak kependidikan lainnya hanya merupakan pilihan lapisan kedua para siswa jika melanjutkan ke perguruan tinggi.
Jika kita lihat di negara-negara maju, guru merupakan orang yang terpilih dan akan disejahterakan segala kebutuhannya oleh pemerintah. Disini, julukan guru tanpa tanda jasa. Memang direalisasikan oleh pemerintah. Memang tidak dibalas setimpal apa yang telah diberikan guru terhadap negara ini. janji pemerintah akan menaikkan gaji guru juga belum direalisasikan hingga sekarang. Walau sudah direncanakan dengan syarat sertifikasi guru. Tapi tetap saja kesejahteraan guru belum terpenuhi sepenuhnya.
Biarlah kita menanmkan modal yang lebih di sini(bid pendidikan), sehingga nantinya kalau panen segala bidang juga akan kecipratan panennya. (2 mei 2008 )
Tag: cerdas, pendidikan, sekolah
2 Mei 2008 pukul 17:53 |
Tulisan ini saya dedikasikan buat bapak pendidikan kita ki Hajar Dewantara
2 Mei 2008 pukul 17:59 |
Kamu 100 persen bener. Soal UN, itu harusnya punya fungsi evaluatif bagi semua stakeholder pendidikan, ya pemerintah, dinas PK, skul, guru, siswa, ortu dan masyarakat. Tapi kenyataan saat ini UN hanya jadi alat untuk men-judge, menghakimi. Buku? Oh Cat, kami tak punya cukup buku teks. Untuk IPA saja, kami harus pinjam buku bekas, kurikulum 94 dari sekolah SSN di Amuntai yang sudah hampir dijual kiloan. Guru? Jangan ditanya lagi dah, pokoknya kurang! Katanya wajib belajar, padahal shrusnya ‘hak belajar’.
2 Mei 2008 pukul 20:21 |
Gurujuga kayak teroris, didatangkan DENSUS 88 yang mengawasi UN…kasian…(baca kompas)
3 Mei 2008 pukul 09:58 |
to pak suhadi: wajib belajar, terkesan seperti sebuah paksaan ya pak, saya juga berpikiran hak belajar bagi semua rakyat indonesia. lebih tepat.
to pak imoe: saya juga baca kasus itu, di medan malahan ada guru yang ditangkap gara2 ada kecurangan dalam UAN. seolah2 negara udah ga percaya lagi ya sehingga harus didatangakn densus yang bertugas utk teroris
3 Mei 2008 pukul 16:27 |
tahun 2008 adalah tahun paling memilukan untuk dunia pendidikan kita…..
6 Mei 2008 pukul 23:01 |
diperlukan ittikad baik dari para pejabat untuk membenahi pendidikan kita.bukan proyek2 cari muka untuk menyenangkan atasan
14 Mei 2008 pukul 14:36 |
Hi…
Tulisannya menarik.
Tapi aku mau langsung protes pada kalimat pertama niyh….
“Robohnya Surau Kami” bukan karya Buya Hamka tapi karya A.A Navis. Kalau karya Buya Hamka yang terkenal itu : “Tenggelamnya Kapal Van Der Wick”
hehe…
14 Mei 2008 pukul 17:03 |
to bang imoe :
sepertinya tidak hanya 2008 saja bang, hasil bobrok yang kita lihat di tahun 2008 ini merupakan proses yang jelek di tahun-tahun sebelumnya
to Rizal:
Betul sekali, banyak darp pejabat kita yang memanfaatkan pendidikan untuk mroyek dan menghasilkan uang
to nilna:
thanks banget atas revisinya, akan segera saya edit