Beranda > ceritaKu, motivation, pikiranKu > Agama Langit, ciptaan siapakah?

Agama Langit, ciptaan siapakah?

Agama Samawi

Tergelitik hati saya untuk membahas agama samawi dilihat dari sisi sejarah dan secara realistis, Agama samawi yaitu Islam, Kristen dan yahudi. Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan (yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal).Dilihat dari asal-usulnya ketiga agama ini merupakan agama serumpun. Lahir dan berakar sama-sama dari nabi Ibrahim Agama ini sama-sama mengenal tuhan yang maha esa. Meskipun cara penyembahan yang berbeda-beda tapi saya yakin ada missing link diantara ketiga agama samawi ini. walaupun saya bukan seorang yang mendalami ilmu teologi tapi saya mencoba mengungkapkan pandangan-pandangan saya selama ini. Yahudi lahir lebih dahulu daripada dua lainnya, Islam dan Kristen. Agama ini dibawa oleh Musa/Moses dan resmi diajarkan setelah Musa menerima 10 perintah Yahweh di bukit sinai. Sebenarnya bibit-bibit kepercayaan terhadap tuhan yang esa sudah ada sebelum ajaran musa, namun karena masih banyaknya kepercayaan orang pada saat itu kepada dewa-dewa seperti di mesir, mesopotamia, dan pada saat itu bangsa israil menghadapi bangsa Canaan, mesir dan Philistin yang mereka anggap kafir dan antagonis. Awalnya Ibrahim yang hidup di daerah mesopotamia yang menyembah bintang membangkang terhadap kaumnya karena ia pikir tuhan itu bukan lah berwujud benda langit, tapi suatu dzat yang tidak bisa dijamah oleh manusia. Anaknya melalui sarah, ishak juga melanjutkan ajaran bapaknya hingga Yaqub cucunya dan Yusuf cicitnya.

Tapi setelah zaman Musa-lah ajaran yahudi resmi diajarkan dengan kitab taurat atau yang sering disebut dengan prjanjian lama. Sedangkan kristen, agama yang lahir dari pembaharuan ajaran yahudi yang dianggap telah menyimpang pada saat itu, dan diutuslah Isa Almasih yang akhirnya dipuja sebagai tuhan oleh umat nasrani, Islam agama samawi terakhir lahir pada zaman jahilliah bangsa arab bar-bar di mekkah dan memuja Allah sebagai yang maha kuasa.
Karen Amstrong dalam bukunya A History of God mengatakan bahwa asal mula sejarah bangsa Yahudi menganggap tuhan Yahweh adalah sebagai dewa perang dan umat kristen mengatakan jesus salah seorang dari trinitas sebagai tuhan dan tuhan Allah islam berasal dari dewa hujan yang merupakan dewa tertinggi pada kepercayaan masyarakat arab pada saat itu.

Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah memilikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.
Masing-masing dari agama tersebut menerima wahyu dari tuhan, bagaimana kedudukan perjanjian lama pada perjanjian baru, bagaimana kedudukan perjanjian lama dan perjanjian baru dalam al-quran, terdapat kisah-kisah yang sama dan menarik untuk dibahas. Apakah bagian-bagian itu dipinjam dari Tuhan yang satu oleh Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan? Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis kitab-kitab terdahulu? Atau dapat disimpulkan kitab-kitab itu ciptaan manusia? Yang jelas wahyu tersebut dikirim kepada rasul yang menerima nya melalui malaikat, menurut keyakinan umat kristen malaikat yang menyampaikan wahyu adalah malaikat Gabriel, dan dalam islam nama malaikatnya Jibril. Lha,sepertinya ada kesamaan nama diantara Gabriel (baca:Jebreiil) dan Jibril. Apakah malaikat ini adalah orang yang sama? Kenapa mengabdi kepada dua tuhan yang berbeda?
Pertanyaannya benarkah kitab-kitab suci itu wahyu tuhan? Apabila memang kitab ini memang wahyu tuhan pastilah bebas dari kesalahan walau kesalahan kecil sekalipun. Namun dapat kita lihat bahwa banyak kesalahan diantaranya:
Pertama, kesalahan mengenai fakta.
Kitab-suci kitab-suci agama ini, menyatakan bumi ini pusat tata surya dan seluruh benda langit, serta berbentuk datar seperti tikar, dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataannya bumi in i bulat seperti bola. Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih dari tujuh, bumi tetap saja bergoyang, karena gempa.

Kedua, kontradiksi- kontradiksi.
Banyak terdapat kontradiksi – kontradiksi intra maupun antar kitab suci – kitab suci agama-agama ini. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan yang hendak dikorbankan adalah Ishak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak Ibrahamin dengan Hagar, budak Ibrahim yang asal Mesir Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), seangkan Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir yang menyempurnakan wahyu Tuhan.

Ketiga, kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.
Di dalam kitab-kitab suci ini terdapat doa-doa, kisah-kisah, berita – berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (dari obyek berita, dalam hal ini Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai “Aku, Kami, Dia, atau nama-namanya sendiri, seperti Allah, Yahweh , dll ”. Mengapa Tuhan menunjukkan diriNya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata – kata atau kalimat-kalimat pejoratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui ini pastilah dibuat oleh manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan memuji-muji dirinya sendiri.

Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian.
Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit ini banyak terdapat ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Qur’an terdapat ayat – ayat kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama – agama lain yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal ini , betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran – ajaran kebeneian in i menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?

Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang m enurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu kebencian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya (demon, devil, atau syaitan).
Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak meminjam dogma dari agama – agama lain, bahkan dari komunitas yang mereka sebut penyembah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti hari kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan terakhir dipinjam oleh agama Yahudi dari agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam dari leganda tentang penciptaan Promotheus dalam agama Yunani kuno . Bagaimana mungkin tuhan agama langit meminjam ajaran da ri agama-agama atau tradisi buatan manusia?

NB: tulisan ini hanya bentuk dari pikiran seorang yang dangkal dan gila (baca gila) seperti saya, yang membuat pembaca harus hati-hati dalam membaca tulisan ini)

baca juga

Surat Gugatan, sebuah surat dari iblis kepada tuhannya

Referensi :
Karen Amstrong : A History of God
Semua Agama Tidak Sama
Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi
Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash : Light of TruthIbid
Majalah Media Hindu Edisi 35

  1. 13 Mei 2008 pukul 07:46 | #1

    Fenomena agama samawi inilah, yang kemudian melahirkan “ejekan” di kalangan atheis, bahwa tuhan sedang belajar. Buktinya, dia bolak-balik merevisi hukum-hukumnya, bolak-balik melakukan “perbaikan” pada agama-agama.

    Kalau saya sih, cuma berpegang pada kalamullah yang satu ini: “Tiada yang kuberi tahu padamu, kecuali sangat sedikit”. Tp justru dgn kesadaran bahwa yang kuketahui cuma sedikit, aku jadi tak sungkan-sungkan untuk berpikir apapun.

    Terima kasih untuk komentarnya di blog ecek2 saya. Entahlah Anda cuma sekadar “memuji”, tp sy benar2 seperti mendapat suntikan energi. TQ very much.

  2. catra
    13 Mei 2008 pukul 08:03 | #2

    to Toga :
    Saya juga berpikiran sama, bahwa tuhan sebenarnya maha tahu dan maha perencana, banyak hal yang sebenarnya tidak diketahui oleh manusia. Akan tetapi kebanyakan dari yang saya lihat sekarang malahan manusia yang mempunyai kuasa tuhan dan mengaggap dirinya sebagai wakil tuhan di muka bumi bertindak sebagai orang yang menguasai ilmu-ilmu agama secara sempurna dan mempunyai hak untuk mengkafirkan manusia lainnya

  3. Hendri
    13 Mei 2008 pukul 10:34 | #3

    sebenarnya agama-agama hanya sebuah fasilitas yang diciptakan oleh seorang allah yang sama untuk menjembatani manusia untuk menyembahNya, jadi semua agama yang mengajarkan kebaikan itu benar adanya.

  4. Aad
    13 Mei 2008 pukul 10:40 | #4

    bagiku yang benar agamaku, dan bagimu yang benar agamamu

  5. imoe
    13 Mei 2008 pukul 15:02 | #5

    kata orang….”kalau tuhan kamu maha kuat dan maha pencipta , bisakah dia menciptakan batu ya begitu besarnya, sehingga tuhan sekalipun tak kuasa mengangkatnya”…nah tuhhhhhhh ada yang nanyain ini ke saya…jawab saya sederhana…..”Gila Loe”…..

  6. nik
    13 Mei 2008 pukul 21:29 | #6

    jawabannya:
    emang sempet tuhan ngelakuin itu ?? orang jadwalnya padat bet…
    huahuahuahua

  7. 13 Mei 2008 pukul 22:08 | #7

    lebih baik adalah agama yang sudah disempurnakan

  8. 16 Mei 2008 pukul 04:43 | #8

    sip mas.. kalo enggak ati-ati kita bisa terjebak menyuruh tuhan melakukan sesuatu untuk kita.
    dah banyak contohnya kan..

  9. 16 Mei 2008 pukul 10:43 | #9

    tulisan ini cuma skedar saja pikiran dangkal saya saja. hati2 dalam membacanya, yang gak kuat iman bisa tergoda lho dan mengatakan “iya juga ya”

    be careful ya pembaca

  10. toesastra
    12 November 2008 pukul 13:48 | #10

    bagiku yang benar agamaku dan bagimu agamamu. betul sekali! tetapi itu berdasarkan egomu. jika kita rubah bagiku kekerasan agamaku dan bagimu cinta kasih adalah agamamu berarti anda akan membenarkan pembantaian ( barbar). bukankah TUHAN juga mengkaruniai kita kecerdasan dan kebijaksanaan untuk berfikir mana salah dan mana benar?

  11. mahdhivan
    7 Februari 2009 pukul 02:36 | #11

    To : Imoe
    Pertanyaan tersebut dapat terbantahkan dengan logika matematika biasa. Tulis pernyataan berikut, A: Tuhan Maha Kuat, B: Tuhan Maha Pencipta, C = B: Tuhan Menciptakan batu yang begitu besar, D = negasi(A) : Tuhan Tak Kuasa (Kuat) Mengangkat batu tersebut. Jadi kita bisa buat: jika (A dan B), maka (jika B maka negasi(A)). Hasil tabel kebenaran adalah : SBBB yang artinya kontingensi (tidak bisa dikatakan sebagai sebuah kebenaran). Masih ingat kan pelajaran SMA-nya? :D

  12. mahdhivan
    7 Februari 2009 pukul 03:15 | #12

    To: Catra
    Sebuah pemikiran yang kritis. Namun perlu diingat, agama itu definisi apa? Bagi saya agama itu adalah kebenaran dan kebenaran itu adalah satu (eksistensi tunggal), tidak bisa banyak. Oleh karena itu hanya ada satu agama yang mengandung kebenaran. Adalah agak keliru menganalisis “kebenaran” agama-agama dan kemudian membanding-bandingkan “kebenaran”nya, karena kebenaran itu hanya kepunyaan satu agama saja (berdasarkan eksistensi tunggal kebenaran tadi), sehingga pada akhirnya akan berbuah pada ketidakbenaran.
    Yang menarik adalah, ada satu agama yang membenarkan beberapa hal-hal yang benar di dalam agama lain atau dengan kata lain ada beberapa kesalahan pada agama lain tersebut yang bukan produk Sang Maha Benar pada awalnya. Apabila kita menganalisisnya dari sudut pandang agama ini, barulah dia akan bisa membuahkan kebenaran, karena semua di dalamnya mengandung kebenaran. :)

  13. amflife
    17 Februari 2009 pukul 20:37 | #13

    mungkin kita harus merevisi banyak pemahaman kita mengenai agama, sebagai muslim kita juga harus membenarkan diri kita sendiri untuk bertanya mengenai apa2 yang menjadi kepercayaan kita yg bersifat dogmatis.
    Contohnya; atas dasar atau dalil apa kita bisa mengatakan kalau jumlah nabi dan rasul hanya 25 saja?
    Karena pada kenyataannya alquran tidak pernah men state mengenai jumlah Nabi dan rasul bahkan Jumlah Nabi dan Rasul yang wajib di ketahui apalagi yang wajib di Imani
    Pd kenyataannya dengan menstigmakan Tuhan hanya menurunkan ajaran agama yang benar lewat Nabi-nabi kaum Israel, berarti Tuhan luput terhadap bangsa-bangsa yang lebih maju dari Bangsa Bangsa Israel seperti peradaban China, Indo aryan dll.
    Saya percaya semua agama berasal dari Tuhan, jadi para pembawa-pembawa agama-agama yang dikenal oleh manusia merupakan utusan-Nya.
    Dalam hal ini sang Budha Gautama adalah seorang Nabi, Bathara Krisna adalah seorang Nabi, Zarathustra juga merupakan Seorang Nabi, Fu Hsi, yu the Great, Lao Tse, Kong Hu Chu, Socrates bahkan Hiawata seorang bijak dalam riwayat kaum Indian adalah Nabi-Nabi yang diutus oleh Tuhan yang sama yang mengutus Adam, Musa, Daud, Isa dan Muhammad..

  14. amflife
    17 Februari 2009 pukul 20:50 | #14
  15. Raynold
    26 Februari 2009 pukul 11:07 | #15

    To: Catra
    Kitab-kitab bukan dipinjam dari kitab sebelumnya tapi berhubung umatNya selalu mendevinisikan sesuatu seperi kalian ini,akibatnya ajaranNya berubah-ubah,maka datanglah suatu ajaran yg telah disempurnakan/diluruskan kembali olehNya dengan TEGAS.

    NB:Apa masih senang mendebatkan sesuatu yg sudah jelas&tegas ????

    To: amflife
    - Kenapa hanya 25 Nabi yg kita ketahui. karena 25 nabi itu yg amat sangat berperan penting dalam men-syi’arkan ajaran Tuhannya
    - Anda mengatakan, Tuhan hanya menurunkan ajaran agama yang benar lewat Nabi-nabi kaum Israel. Saya kembali bertanya pada anda, Apa kita dilahirkan dari perut ayah?

  16. 23 Maret 2009 pukul 07:59 | #16

    bagiku agamaku, bagimu agamamu !

    Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rosul Allah

    dan aku yakin bahwa semua ini hanya ada Satu Tuhan yang memimpin dan menciptakan semuanya, soalnya kalo ada 2 bayangkan saja kalo pas lagi bentrok…lucukan pasti kiamat tu..

    dan aku yakin Muhammad itu utusan Allah, karaena harus ada satu pemimpin umat manusia yang harus mempunyai aturan ,perintah dan anda yakini kebenaranya , soalnya kalo ada2 plinplan dong …keputusannya

    karena dalam hidup adalah untuk memilih
    dan kita hanyalah sebuah selembar kertas kosong yang terserah anda untuk menuliskan warnanya mau hitam/putih, baik/buruk , tidak ditulispun juga nggak apa2 yang semua akan
    diaudit oleh Tuhan Yang Maha Esa

    dan aku yakin untuk mendapatkan surga Nya
    kita harus melalui proses ibadah yang penuh aturan,perjuangan ,kerja keras, banting tulang, peras keringat tanpa merugikan sesama umat manusia lainnya, soalnya kalo terlalu mudah …nggak ada tantangannya dong,semua pasti masuk surga,padahal mau dapatkan rumah aja syaratnya juga rumit apalagi surga…huwahaha

    anggap aja ujian waktu sd/smp/sma/kuliah yang harus bekerja keras untuk belajar dulu biar dapat nilai tinggi , padahal kita udah bayar untuk itu..f##k off

    anggap aja kita bekerja susah payah ,membating tulang, memeras keringat, sampai kita menjadi kaya banyak tabungannya, padahal besoknya Mati juga, hasilnya juga nggak dibawa mati..hahaha

    apa salahny kita juga berusaha mengumpulkan kebaikan tanpa pamrih sebagai tabungan untuk Tuhan kita sebelum kita diMatikan oleh-Nya

    untuk masalah agama mungkin dasarnya baik
    masalah jeleknya pasti oknumnya tu….F##k
    yang rata2 ada di Instansi Pemerintahan…dunia

    jadi buat apa kita ngeributin agama yang nggak salah
    mending ngributun pemimpin/oknum pemerintah yang menguasai dunia ini yang lebih sewenang-wenang seolah-olah dunia ini miliknya…..paling besok juga Matiiiiiii…..kaliaan

    semua pasti Matiiiiiiiiiiiiiiii……….

  17. Juri
    25 Maret 2009 pukul 15:56 | #17

    Pada hakekatnya kebenaran itu hanya ada Satu, cuma bagaimana kita melihat dan meraih kebenaran itu , kalau orang yahudi bilang Tuhanya Yahweh dimana dalam ajaran Yudaisme salah satunya adalah untuk menjelekan agama lain, Tuhanya orang Israel, trs Tuhanya orang Bali Siapa…? Tuhan ikut berperang….lho Tuhan kok berantem dengan Ciptaanya…ntar kalau kalah gimana ?…. Agama kristen sudah jelas dimana Awal mulanya Isa Putra Maryam menjadi utusan Tuhan (bukan anak Tuhan) sebagaimana yg dijelaskan pula di Alquran, begitu pula Islam merupakan agama penutup Zaman dgn Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir dimana kedatangannya juga sudah di sampaikan dalam Injil dan juga diakui oleh seorang Pendeta dari kalangan Yahudi pada waktu itu,…. Nah dari sini kita bisa melihat…kira2 agama mana yang relevan dgn peryataan2 sdr tsb,,,,,kalau mau logika dunia bikinan manusia kalau ada SK atau UU setelah direvisi atau muncul SK/UU baru kira2 yg lama masih berlaku gak ?…..itu baru setitik contoh, kalau mau mencari kesalahan Al Quran bisa gak bikinbsatu ayat…saja….coba…? gak ada juga yg Namanya Alquran lama dan Alquran baru…terbitan Roma atau….Eropa….gimana…..

  18. 1 April 2009 pukul 08:39 | #18

    @catra
    Kalau dalam kitab suci khususnya Al-Quran ada ayat2 yg anda tafsirkan sbg kebencian terhdp bangsa lain spt Yahudi, sebenarnya tidak demikian. Kalau anda baca ayat2 yg berkaitan dg Yahudi secara UTUH, maka anda akan memahami betapa org Yahudi yg berada di Madinah sangat keterlaluan kejahatannya kpd Nabi Muhammad saw. Mereka senantiasa melakukan konspirasi untuk menghancurkan eksistensi Madinatul Munawaroh. Padahal Nabi saw sangat toleran terhadap bangsa dan agama selain Islam di negara Madinah tsb. Oleh karena tindakan org2 Yahudi sdh sangat membahayakan eksistensi negara, maka Al-Quran memerintahkan Nabi saw dan kaum muslimin untuk memerangi org Yahudi yg membahayakan negara.
    Saya kira dimanapun di dunia ini kalau sudah membahayakan eksistensi negara maka hukumannya adalah mati/perang.

    Begitu juga ketika ada ayat yg memerintahkan kaum muslimin untuk berperang, maka itu berarti ofensif melainkan defensif. Artinya kaum muslimin tdk pernah menyerang duluan (baca juga sejarah Nabi Muhammad saw). Tidak mungkin Nabi Musa as., Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw sbg utusan Allah SWT memerintahkan manusia untuk membunuh/perang dg hawa nafsunya/tanpa kebenaran.

    Sekali baca ayat2 Al-Quran secara utuh, karena ayat2 yg berkaitan dg suatu topik tertentu tdk selalu berada dlm satu Surat melainkan tersebar dalam surat2 lainnya.

  19. 24 Mei 2009 pukul 02:28 | #19

    Kalau mindset sudah ter-dogma sejak dini, agama bisa menjadi sekelompok orang yang eksklusif dan tidak boleh terganggu oleh pihak luar. Sedikit saja terganggu, maka yang muncul adalah ego, emosi dan luncuran kata yang berasal dari dogma tadi.

    Ada tahapan pencerahan untuk mencapai kesadaran tinggi (high consciousness) yang bisa membersihkan dogma. Kalau di Islam dengan bertajali, kalau di Kristen dengan berkontemplasi, kalau di Buddha dengan meditasi.

    Apa tujuan dari pencarian kesadaran tinggi ini?
    Untuk memahami Tuhan, alam dan manusia dari sudut pandang kebenaran yang sejati. Setelah kesadaran tinggi ini tercapai, Tuhan akan menyatu dalam diri, sehingga semua dogma, agama dan kitab suci akan termusnahkan dan kita akan terdiam dengan sendirinya karena sudah tidak ada lagi yang dicari, tidak ada lagi yang tidak diketahui, dan tidak ada lagi hal yang perlu diperdebatkan. Tugas kehidupan yang selanjutnya hanyalah bagaimana mengasihi dan membantu sesama umat manusia, sama persis dengan misi Tuhan dalam menciptakan alam dan manusia.

    Salam.

  20. hatmiati
    27 Mei 2009 pukul 10:15 | #20

    Sesuai dengan hukum ilmiah yang terakhir itu selalu penyempurna dari yang sebelumnya…tetapi segalanya akan selalu berpulang kepada pribadi masing-masing. yang penting berusaha untuk selalu melaksanakan apa yang baik bagi ajaran agamanya masing-masing.

    Cat..makasih dah ke blok aku yang jarang banget ku obok2…

  21. Ahmad Zayn al-Anshory
    10 Oktober 2009 pukul 09:53 | #21

    Bagiku, semua agama ialah benar menurut mereka yang menganutnya. Walau terkadang di antara ketiganya terdapat banyak perbedaan, tapi jangan jadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk tidak dapat hidup rukun secara berdampingan. Jadikanlah perbedaan tersebut sebagai bentuk rasa syukur kita atas apa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan, serta untuk menumbuhkan rasa toleransi, saling menghargai, dan saling pengertian di antara kita semua.
    Marilah kita ciptakan perdamaian dunia,,.! Allahu Akbar,,!

  1. 26 Mei 2009 pukul 10:56 | #1