Tanah Airku Endonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang milua
Yang kupuja sepanjang masa
Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa nan amat subur
Pulau melati pujaan bangsa sejak dulu kala
Melambai-lambai
Nyiur di pantai
Berbisik-bisik raja klana
Memuja pulau nan indah permai
Tanah airku Endonesia
Begitulah sepenggal lirik lagu perjuangan “rayuan pulau kelapa”, di atas sengaja saya tulis Endonesia karena saya mendengar lagu yang dinyanyikan dengan iringan musik keroncong itu tidak terdengar lafal kata Indonesia, tapi penyanyi menyebut Endonesia, saya rasa semua anak sekolah juga menyebut Endonesia ketika upacara bendera.
Kalau dilihat dari liriknya sepintas memang tidak menggeolorakan jiwa seperti lagu maju tak gentar atau seperti lagu halo-halo bandung. Lagunya terkesan lembut dan menentramkan jiwa, ternyata setelah dihayati lagunya dapat menyentuh jiwa saya, kenapa, lagu ini menggambarkan Indonesia yang makmur dan jaya. Liriknya menggambarkan bagaimana tenteramnya keadaan nusantara dan suburnya tanah di kepulauan ini. Saya menjadi suka lagu ini, ketika ada interaksi dengan swasta (mahasiswa stres tingkat akhir), yang mengatakan lagu ini wajib hafal ketika masuk lab motor bakar dan sistem propulsi. Halahhh, apa hubungannya coba lagu ini dengan lab motor bakar. Ternyata setelah mendengar celotehannya, saya sadar bahwa saat ini tidak semua mahasiswa mempunyai semangat nasionalisme untuk membangun bangsanya. Kebanyakan dari mahasiswa berlomba-lomba kuliah di Perguruan Tinggi Favorit di jurusan bergengsi hanya untuk kepentingan pribadi, mendambakan bekerja di perusahaan minyak asing bergaji puluhan juta atau membangun kerajaan bisnis yang menghasilkan uang.
Rendahnya semangat kebangsaan saat ini, khusus nya di kampus saya juga bisa dilihat dari partisipasi mahasaiswa nya dalam kegiatan kemahasiswaan, organisasi terpusat mahasiswa KM (BEM) tidak lagi menjadi tujuan mahasiswa untuk berorganisasi, di himpunan jurusan pun juga setengah-setengah. Saat mahasiswa lain berdemo menentang kenaikan harga BBM, mereka diam. Atau, saya pikir-pikir mereka sepaham dengan saya, agar pemerintah menarik subsidi BBM.
Sejak kampus dicanangkan oleh rektor sebagai research and science centre, segala bentuk kaderisasi himpunan dan kegiatan lainnya diperketat pengawasannya, kalau dulunya kampus ini 24 jam hidup sekarang kegiatan kemahasiswaan hanya dibatasi sampai jam 23.00 malam, parkir utara dan barat ditutup jam 19.00, hanya parkir timur yang buka jam 12 malam. Bagaimana dengan mahasiswa TA, yang mengerjakan tugas akhirnya hingga larut malam di lab. Bagaimana dengan latihan pagelaran unit kesenian hingga pagi. Karakteristik nasionalisme mahasiswa yang luntur telah diset oleh rektorat. Rektorat sepertinya hanya berniat menghasilkan manusia-manusia pekerja tanpa soft skill berorganisasi dan hubungan sosial yang rendah. Keadaan ini didukung oleh masuknya virus-virus menarik seperti komik manga, game, dotA, RF, CS yang membuat mahasiswa lebih enak ngeGame dikosan ata baca komik di taman bacaan daripada berorganisasi.
Setelah generasi 1926 Soekarno, Hatta, generasi 1945, Soekarni, Adam Malik, generasi 65, Akbar Tandjung, generasi 1976 mahasiswa malari hingga generasi 1998 Sri Bintang Pamungkas dan pahlawan reformasi lainnya. Mahasiswa-mahasiwa yang banyak melakukan perubahan di negeri ini.
Sekarang kita mahasiswa generasi apa?
Tag: kampus, mahasiswa, nasionalisme
15 Mei 2008 pukul 14:52 |
waduh, ini pertanyaan untuk mahasiswa. berarti saya nggak bisa, nggak boleh, dan dilarang menjawab. ok, yang lain silakan menjawab deh….
15 Mei 2008 pukul 15:34 |
hahaha, berarti nokomen ya pak
15 Mei 2008 pukul 21:07 |
saya juga bukan mahasiswa
16 Mei 2008 pukul 14:10 |
saya juga bukan, tapi ngga pun mahasiswa, pertanyaaan soal nasionalisme bagi anak muda -saya masuk yang ini- adalah pertanyaan yang kadang mengusik saya. ya, kita bisa buat apa untuk pergerakan nasionalisme negri ini? Hmmmm, biarlah saya pikir2 dulu!
16 Mei 2008 pukul 18:35 |
he…he…rupax masih juga sama seperti logat soeharto yach.Btw anggkatan berapa di smaten kang???smaten always paten k0
17 Mei 2008 pukul 11:18 |
to uda zoel dan mas gama
mahasiswa apa bukan tetap saja rasa nasionalisme dipertahankan, eh, tetap dukung tim uber kita di final nanti ya
to sevli : saya di smanten angkatan 2004, tamat 2007
17 Mei 2008 pukul 11:24 |
tukaran link yukkkkkk
19 Mei 2008 pukul 11:57 |
Well, mahasiswa sekarang jadi generasi kreatif aja. Ga usah membayangkan yang muluk-muluk. Jadi mahasiswa pelopor penyelamat lingkungan juga OK. Lagi tren tuh kayanya.
Kan match sama theme song Rayuan Pulau Kelapa yang bergenre mooi indie
19 Mei 2008 pukul 16:13 |
To Fadli : kreatif ngapain mas? kreatif banyak, kreatif dalam strategi game, kreatif dalam nembak cewek, atau kreatif yang mana
21 Mei 2008 pukul 19:19 |
definisi diatas dikutip dari sini
http://en.wikipedia.org/wiki/Creativity
Bukannya mau sok serius yah, tapi kalau tidak ada yang punya cara berpikir seperti itu wah tambah kacau aja kalau orang mau bertukar pikiran, karena semua orang punya definisi sendiri-sendiri dan tidak memegang standar tertentu.
Sekarang banyak hal yang sudah jelas malah dikaburkan lagi, lah klo udah begitu gimana caranya mencari hal yang baru? Apakah yang seperti itu yang didefinisikan sebagai kreatif sekarang?
21 Mei 2008 pukul 20:23 |
to mas fadli, saya cuma melihat beberapa realita yang melanda mahasiswa belakngan ini, saya kutip tulisan saya,
.
sekarang lebih banyak mahasiswa yang menghabiskan waktunya ngeGame, banya komik dan banyak kerjaan yang “kurang berguna lainnya”. memang sih hobi mereka terserah mereka. disana mereka juga bisa kreatif kok, kreatif dalam strategi game dsb. tapi kreatifnya tidak bermanfaat bagi kemajuan bangsa yang tengah terpuruk sekarang ini.