Anjang namanya, begitulah ia dipanggil sehari-harioleh teman-temannya. Ia adalah anak sulung dari empat orang bersaudara. Beberapa tahun yang lalu ia lulus di salah satu perguruan tinggi negeri favorit di kota provinsi nya. Harapan orang tua nya begitu besar dipundaknya. Sebagai orang yang biasa hidup di kampung, pedalaman provinsi pergi ke kota untuk menuntut ilmu. Berusaha untuk merubah nasib keluarganya.
Di kota ia tinggal mandiri, jauh dari orang tua sanak saudara. Anjang yang dahulunya tidak pernah mencuci pakaiannya sendiri, tidak bisa memasak, paling banter hanya masak mie, tidak bisa membersihkan tempat tidur sehabis tidur, palingan si Anjang Cuma bisa mandi sendiri. Itupun kalau dia tidak punya malu dia pun bakalan minta dimandiin sama orang tuanya. Dasar anjang!
Sekarang ia hidup sendiri, kelabakan mengurus dirinya sendiri, repot juga ternyata si anjang mengurus dirinya sendiri. Tinggal di sebuah kamar 4×4 dengan fasilitas seadanya kamar berantakan yang kata emaknya dulu seperti kapal pecah. Dulu sebelum si anjang migrasi ke kota. Emaknya sempat menyindir si anjang
“marni(nama orang yang bantu-bantu dirumah anjang), besok kalau Anjang merantau kau temenin dia, cuci kol*r nya, bersihin tempat tidurnya, suapin dia makan ya” kata emak kepada marni di depan si Anjang.
Anjang diam saja cuek seakan-akan ia tidak akan menghadapi masalah besar. Hehehe ternyata dugaan si Anjang salah. Ia sekarang seperti anak ayam kehilangan induk. Karena si Anjang tidak bisa cuci baju sendiri akhirnya si Anjang mengupahkannya kepada seseorang yang bekerja di rumah tempat ia tinggal di kota. “gampang nih tinggal bayar tiap bulan aja beres” bisiknya lirih. Teh yayat sebut saja namanya begitu. Orangnya sopan. Ketika si Anjang bangun pagi buat sholat pergi ke kamar mandi berselisih dengan teh yayat “den, selamat pagi, eheh”, kata teh yayat setiap berselisih dengan si Anjang. Hari demi hari si Anjang tersenyum saja melihat bajunya kena luntur. Toh Anjang tetap bahagia karena dia emang tak bisa mencuci. Esoknya ia lihat lagi baju barunya udah kelihatan lusuh pudar dan melar. Hmmm tak apalah, baru dua baju. Bulan pun berganti. Kesemua baju si Anjang terlihat belang-belang, baju hitam jadi cokelat keputihan. Baju putih jadi warna-warni ga jelas. Pernah blazer cokelat kesayangan si anjang berubah warna jadi cokelat plus warna kuning tidak merata di sekujur blazer. Si Anjang pun berpikir “hmmm besok beli lagi aja”.
Pernah juga Anjang beli baju dengan brand ternama, sekali pakai trus di cuci sewaktu mau dipakai lagi warna kerahnya udah berubah dengan warna aslinya. Berubahnya bukan bunglon lho, tapi berubah jadi sangat pudar dan keputih-putihan. Awal bulan kemarin tepat 10 bulan pengabdian teh yayat kepada si Anjang. Anjang memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak dengan teh Yayat. Dengan alasan yang cukup sempurna dibuat oleh si Anjang. “teh, bulan ini Anjang mau pulang ke tempat emak tersayang, jadi tidak usah ambil baju kotor di kamar ya!”
Sekarang pun si Anjang mencoba untuk mandiri. Bukan cuci baju sendiri. Tapi mencoba mandiri mengantarkan baju kotornya ke Laundry terdekat. Sampai saat ini si Anjang cukup puas dengan hasil cucian laundry. Belum ada keluhan. Tapi perubahan yang cukup signifikan terlihat bila si Anjang berselisih dengan teh Yayat, teh yayat terlihat cuek tidak lagi membungkuk-bungkuk menyapa si Anjang seperti sebelum-sebelumnya.
(cerita ini Cuma piktip, sumpah piktip, maap bila ada kesamaan nama, watak dan lokasi)

18 Juni 2008 pukul 13:50 |
Si Anjang tu bukan kamu kan?
Sumpah bukan kan?
Sumpah fiktif kan?
He..he…he…. *just kiddin’
18 Juni 2008 pukul 14:52 |
Si Anjang yang aneh ya,…katanya mau merubah nasib keluarga,..tapi klu punya pembokat tentunya keluarganya kaya?,…trus kiriman bulanannya pasti besar karena mampu mengirim pakaian kotornya ke laundry,…..anjang-anjang,…untungnya hanya fiktif belaka,…
18 Juni 2008 pukul 15:52 |
========================
to pak suhadi =>> untung pak suhadi gak ketularan virus PERTAMAXX hehe:) yahhh begitulah pak. cerita ini hanya piktip. sumpah piktip.
to avartara =>> mas avartara
miskin kaya itu relatif. penulis pernah melihat dengan mata kepala sendiri orang yang jemput BLT di kantor pos bawa sepeda motor, pake perhiasan. kata teman penulis bahkan ada yang sambil denger2 walkman. kategori miskin dari pemerintah saja seperti itu mas.
18 Juni 2008 pukul 17:08 |
ide ceritanya bagus.. tp kok kerasa ada yang kontradiktif ya..
pertama kali baca, dah kebayang ajang orang miskin. Karena dia sekolah untuk merubah nasib ornga tuanya. namun nyatanya dia punya pembantu, bisa ngupahin baju ke laundri.
benar juga kata Avartara, untung hanya piktip..
18 Juni 2008 pukul 17:13 |
ehueheueheheue
18 Juni 2008 pukul 18:00 |
===============
to uda anto =>> miskin itu relatif da, contihnya aja blog uda user ID nya orang miskin. namanya juga cerita piktip… thanks udah berkunjung
to fanz =>> ternyata si Ifan udah ketularan gila saya… heuheuheu:mrgreen:
18 Juni 2008 pukul 19:10 |
this is a “real fiction”.
hehe…
si anjang itu kayaknya si catra deh, gak bisa masak gak bisa nyuci, mandi aja dibantuin mandeh.
hayo, ngakuuuu…. *tuing… tuing…*
18 Juni 2008 pukul 22:53 |
Hahaha…itu baru di luar kota, belum di luar negeri…kita di sini hampir tak pernah pergi ke laundry…mahal banget…
19 Juni 2008 pukul 06:19 |
to hemmayulfi =>> ahh, cuma cerita piktip kok uni, hehehe
to juliach =>> mahal yakk?? untung aja si anjang itu ga ikuta2an temannya tes masuk universitas luar negeri kemarin…
19 Juni 2008 pukul 09:54 |
bukannya lebih bersih ama teh yayat tuh, bajunya jadi putih2 semua
19 Juni 2008 pukul 13:58 |
heuaheuhauehua… anjang.. anjang.. hidup anak kos..
19 Juni 2008 pukul 14:04 |
==================
to arda86 =>> dari warna gelap jadi warna putih itu jelas kacau banget mas hehehe
to rian =>> nasib anak kos.. anak kos…
20 Juni 2008 pukul 10:09 |
ah… make menyamarkan nma… anjang itu elu kan? ngaku!!! hihihihi….
20 Juni 2008 pukul 11:45 |
piktip kok… cuma piktip
27 Juni 2008 pukul 12:16 |
jang jang kasihan amat lu jang
inget waktu masih bujangan
mandiri dikit napa jang.
13 September 2008 pukul 23:52 |
[...] dulu kan baju akang dicuci sama teh yayat, ga enak sama teh yayat,” (baca kisah teh yayat disini). Yahhh susah emang ya kalo berurusan dengan orang kayak gini. BIsa main bunuh-bunuhan mereka [...]