Perhatian : Postingan ini bukan sebuah kampanye memenangkan satu pihak atau menyudutkan pihak lain, berhubung Pemilu 2009 sudah mendekat, dikhawatirkan ada pihak2 yang tersinggung atau dipojokkan. ini hanya sebuah pikiran seorang anak muda yang awam, celoteh rang mudo
Sudah satu dekade kemerdekaan real Endonesa dalam hal ini saya melihat kemerdekaan setelah lepasnya dari orde baru tapi tanda2 kesejahteraan masyarakat tetap saja belum tampak, Endonesa sekarang lebih banyak mengenang masa lalu nya yang jaya, masa majapahit, sriwijaya dan lain2. Gemah ripahnya Endonesa hutannya yang lebat, alam nya yang kaya, dan sebagainya. Di buku pelajaran anak SD, kita di doktrin kalau negara kita punya segalanya, punya sumberdaya alam melimpah. Perlu anda ketahui Endonesa termasuk Negara yang tertinggal di antara negara2 lain. Di ASEAN Endonesa tak jauh lebih baik dari Vietnam.
Hutan di Endonesa adalah hutan yang mengalami laju penurunan yang paling cepat. Korupsi yang menjadi-jadi. Korupsi massal di DPRD, BLBI, kasus suap di mahkamah agung, kasus suap Gubernur BI, dll. Ditambah dengan pemerintahan yang lemah mudah di dikte oleh Negara lain, bayangkan saja di Freeport, Endonesa menerima hanya 10% dari total keuntungan tambang disana, gubernur2 papua yang korup juga memperparah tingginya angka kemiskinan disana, pulau buton di Sulawesi yang tekenal sebagai daerah penghasil aspal, ternyata mempunyai jalur transportasi yang buruk, parah, kita hanya menjadi babu di Negara sendiri. Kep. Natuna yang mempunya cadangan migas yang luar biasa jg bias tertinggal. Peristiwa kelaparan di NTT,
Satu lagi yang saya sayangkan, impor bahan pangan yang berlebihan, beras dari tahun ke tahun ga pernah berhenti di impor, keledai eh kedelai juga. dan sekarang katanya untuk menolong petani bawang dari harga bawang yang turun, pemerintah juga ikut2an mengimpor bawang. Kenapa pemerintah tidak memanfaatkan sumber daya yang ada, kalau merasa kurang, apa salahnya dikelola dengan baik. Toh dulu Endonesa di zaman soeharto bisa swasembada beras. Dulu di zaman soekarno pernah mengekspor beras untuk membantu rekan2 india yang kelaparan, orang2 thailand. Wah… itu dulu, sorry, kebanyakan bernostalgia. Tapi apa salahnya hal itu dibangkitkan lagi, dengan mengorganisir para petani. Membantu penyediakan pupuk. Endonesa jangan setengah2 donk, fokus di industri, tidak. Dibilang fokus di bidang agraria juga tidak.
Setelah soeharto lengser emang banyak masa2 sulit dihadapi, di masa habibie, timor-timur lepas. Politik juga belum stabil. Amien rais yang gencar menyerang rezim ode baru, setelah naik jadi ketua MPR, juga ga ada kemajuan. Di masa gus dur, ini lebih parah, terlalu banyak buat perubahan yang akhirnya jadi bumerang. Di sini GAM terang2an merayakan upacara kemerdekaannya dengan mengundang media asing maupunlokal. OPM juga begitu. Di masa megawati, wah lebih parah. Korupsi masih merajalela. Ga ada kemajuan2 berarti.
Di zaman SBY, mungkin disini kita bersyukur bisa dapat presiden kayak dia, dia punya sedikit perubahan2, seperti contoh dalam penanganan kasus korupsi, KPK, bekerja sangat berani. Di bidang militer, boikot dari amerika telah di “obat”. Bidang ekonomi, dengan berani memutuskan hubungan dengan IMF dan melunasi sebagian hutang2 warisan orde baru. Meskipun baru-baru ini SBY terpaksa menarik subsidi BBM, yah mau bagaimana lagi, harga minyak mentah dunia menembus 140 USD/ Barel, jika dikalkulasikan lebih Rp. 8000 per liter, itu baru minyak mentahnya saja. Di bidang militer Endonesa lebih maju manajemennya. Dan bahkan hasil survey, Endonesa peringkat 13 dunia di atas australia (21), dan terkuat di ASEAN
semoga di pemilu 2009 nanti SBY terpilih lagi. Kita lihat saja, biar rakyat memilih
hidup Endonesa
9 Juli 2008 pukul 00:59 |
tapi sayang, selama kepemimpinan SBY, endonesa dihantam berbagai jenis bencana alam.
Sebagai rakyat, yang paling bijaksana kita lakukan adalah mendoakan kebaikan kpd pemimpin kita.
9 Juli 2008 pukul 02:35 |
Well, publik sendiri yang akan mengujinya. Tapi bukan wakil dari publik yang sekarang karena kayaknya beliau-beliau tidak semuanya mampu mewakili suara publik. Jadi siapapun pemimpinnya kalo sistem pengontrolnya masih ‘mau main-main’ ya… ya… ya..
9 Juli 2008 pukul 07:49 |
“KELEDAI” memang sengaja diketik begitu atau maksudnya “KEDELAI”
Indonesiaku tercinta negara yang besar, bukan hanya besar wilayah dan penduduk tapi juga besar angka kemiskinan, besar korupsi, besar bencana alam, besar angka kriminalitas…hiks sedihnya
but still I love my country
9 Juli 2008 pukul 07:50 |
to chal, yup bener, katanya sih SBY naik ada tumbalnya sekian juta rakyat Indonesia, tapi cuma isu aja sih, saya juga tidak percaya takhayul itu
to welly, maksudnya sistem pengntrol itu legislatif ya? yah gimana mau ngontrol, yang ada dalam pikiran mereka cuma setoran ke partai pengusung mereka.
to Indira, thanks banget atas koreksinya, akan segera di edit… ehehe, semoga Indonesia 2009 bisa ke arah yang lebih baik
9 Juli 2008 pukul 11:40 |
*baca paragraf-paragraf awal*
*meneteskan air mata*
*baca paragraf-paragraf akhir*
*nangis juga, tapi tears of joy*
saya punya harapan besar ke depan endonesa bisa maju lagi.
*setuju sama chal,percaya kekuatan doa*
insyaAllah, amiiin…
9 Juli 2008 pukul 12:18 |
bukan kampanye kan diak hehe…tp dibanding yg laen, emang Pak SBY mayah deh.
iya walao kacau, negeri ini tetap negeri kita,mari berbenah walau hanya dari diri
9 Juli 2008 pukul 12:20 |
Saya paling benci kalau mengenang negara kita ni punya tanah yang subur, tapi kok bahan pangan selalu impor.
Kita ni penduduknya mayoritas bertani, tapi kok pertanian gak maju-maju?
Kalau kita mau bangkit, majukan pertanian.
Hidup Endonesa!!!
Hidup Catra!!!!
Hidup!!!!!
Cat, saya dah kirimkan alamat dan nomor hape ke alamat email kamu dan imoe. Cek deh..
9 Juli 2008 pukul 12:22 |
to uni hemma, jangan kebawa emosi yah uni nge baca nya, ehehe, bdw uni jagoin siapa di pilpres nanti?
to uni meiy, bukan kampanye ni, cuma penilaian saya terhadap kepemimipinan SBY menjelang akhir jabatannya ini
to pak suhadi, betul pak, katanya negara kita ini “gemah ripah loh jinawi”, tapi di kalimantan gimana pak? katanya tanah disana tanah gambut ya? tidak bisa untung bertani?
9 Juli 2008 pukul 12:28 |
hidup endonesia…. musti di limau an lai mah indonesia ko
hehehe
9 Juli 2008 pukul 14:15 |
@suhadi:
sudah saya cek, tapi koq gak ada ya, pak?
*serasa dikirimin juga*
9 Juli 2008 pukul 14:52 |
wahh.. saya sih berharap siapa pun pemimpinnya nanti, semoga bisa memilih dan mendapat perangkat kerja yang baik, tidak malah suka cari selamat sendiri, apalagi pas deket2 pemilu begini
Presidennya bagus, kalo timnya gak solid, susah juga kan?
9 Juli 2008 pukul 17:30 |
to dr ken, betul, sepertinya Indonesia harus di limaukan ehehe, ternyata pak dokter masih percaya takhayul juga ya xixixix
to Dr. hemma yulfi, DAP&E. uni, kami punya rencana “gila”, pengen melancong ke kalimantan ke tempat pak Suhadi, ehehe:lol:
to takochan, sekarang saja di penghujung periode SBY di goyang oleh banyak oposisi. hhuhh kesel banget deh ngelihat oposisi yang berusaha menggoyangkan ke stabilan negara kita akhir2 ini. Seperti dalang demo, buat2 kericuhan yang menjatuhkan kredibilitas presiden dll.
9 Juli 2008 pukul 18:54 |
saya lebih suka kalau catra yang jadi presiden…biar saya diangkat jadi penasehat nya ahahahahahahahahah
SEMOGA 2009 LEBIH BAIK…saya OPTIMISSSSSSSSSSSSSSSS
9 Juli 2008 pukul 23:37 |
hmmmmm au ah,,,, endonesia
10 Juli 2008 pukul 09:57 |
Setuju..
sebaiknya kita jangan melihat keburukan yang ada,
tapi alangkah lebih baiknya kiata melihat jauh lebih kedalam atas apa-apa yang baik banyak telah terjadi.
(cat, ba a caro mambuek comment dari urang lain auto approve? thx)
10 Juli 2008 pukul 09:58 |
to bang Imoe, bg im aja yang jadi presiden nya, catra yang jadi penasehatnya. kan guru duluan yang naik.
to da zoel, endonesia bos, tapi endonesa,
to reza, agiah taruih cutbray, ayo ngeBlog!!!!
10 Juli 2008 pukul 12:04 |
setuju sama meiy: baik buruk, ini tetap rumah kita. baik buruknya sebuah rumah, tidak dilihat dari pemimpinnya saja.
bukan menggeneralisasi: seluruh penghuni rumah juga menentukan baik buruknya.
10 Juli 2008 pukul 13:47 |
biar langit runtuh, auk teteup cinta negeri ini !
10 Juli 2008 pukul 15:55 |
to taliguci, disitulah gunanya pemimpin, harus bisa me manage bawahannya ke arah yang lebih baik om. punya wibawa dan bisa membimbing bawahannya.
to warmorning, saya juga cinta Endonesa
10 Juli 2008 pukul 15:56 |
Indonesiaku sayang Indonesiaku malang,….sebanyak yg benci sebanyak itu pula yang sayang,…. begitu melimpahnya anugrah Tuhan di bumi pertiwi ini,…apabila tidak berada pada tangan pengelola yang “mengerti”, bisa hancur negeri ini,…
siapapun yang nanti yang bakal jadi pemimpin negeri ini.
10 Juli 2008 pukul 17:31 |
SePPP , INDONESIA emang TANAH AIRKU
11 Juli 2008 pukul 08:09 |
cat,
sia du urang nan acok diimbau catra jo uni h****?
ibo bana urang tu eh, namonyo rancak, galanyo santiang, tapi inyo dipalasuakan urang.
jan dipanggia uni jo namo urang tu ndak?
ibo wak ka nyo eh.
11 Juli 2008 pukul 13:36 |
to avartara, semoga saja calon pemimpin 2009 nanti bukan tipe pemimpin yang gila jabatan saja.
to realylife, pernah denger lagu rayuan pulau kelapa ngga? keren banget tuh
to uni hemma, dipalasuakan baa lo koh??? uni ko aneh2 sae, dipalasuakan jo om gogel lo ndak? lapor lah ka polisi tuh ni!
14 Juli 2008 pukul 09:11 |
Yaa…Indonesia mah terbaik di Asia Tenggara untuk soal demokrasi, bukan untuk militer. Itu sih sudah masa lalu..
Lihat saja negara-negara tetangga SE Asia:
Thailand : Kudeta kekuasaan oleh militer
Malaysia : Pembatasan kebebasan beragama, bicara, dan pers (lu bikin blog yang mengkritik pemerintah aja dah cukup untuk masuk penjara)
Singapura : Pembatasan pers (sama kaya Malaysia..)
Bicara soal kebebasan berpendapat, Indonesia emang top-nya..
Tapi ya gitulah..makin banyak tong kosong yang berbunyi nyaring juga sekarang..
14 Juli 2008 pukul 11:25 |
mas saya link ya web nya….
mohon ijin
27 Mei 2009 pukul 12:23 |
[...] Endonesa Tanah Airku [...]
4 Juni 2009 pukul 13:57 |
[...] Endonesa Tanah Airku [...]