Bulan Ramadhan, bulan yang datang sekali dalam setahun ini merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh umat islam sedunia, yang mana amal ibadah kita dilipatgandakan. Selain itu urusan perut juga menjadi hal yang istimewa pada bulan ini. Apalagi saya yang berada jauh dari orang tua, tiap hari tidak bisa menikmati enaknya ikan gambolo buatan ibu yang merupakan masakan kesukaan saya.
Dulu sewaktu dibawah ketek ibu, saya sering banget memilih-milih makanan, kalau makanan nya tidak saya sukai saya tidak makan, begitu keluh saya kepada ibu. Sebenarnya hal itu sungguh tidak baik. Hal itu baru saya rasakan akibatnya sekarang ketika jauh dari orang tua, jauh dari makanan-makanan favorit saya, jauh dari kebiasaan-kebiasaan saya dari sambal-sambal orisinil khas daerah saya. Halah, kampungan lo cat, he’eh, saya emang kampungan kalau soal makanan, primary food saya tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tapi kalau ada yang ngajakin saya ke hokhokben, BMK, hayuk, gak nolak atuh. Bukannya saya tidak mengakui bahwa makanan khas bandung itu memang enak. Tapi emang makanan tersebut tidak cocok dengan lidah saya.
*mendongak ke atas melihat judul* Palaibada, ada yang tahu sama makanan yang satu ini nggak? makanan ini bisa dibilang langka. DI Bandung jarang banget bisa menemui makanan yang satu ini. Pak Rinaldi bahkan bengong kenapa makanan ini bisa sampai di Bandung.
Jadi bila suatu saat pembaca menemukan makanan ini saya rekomendasikan untuk membelinya dan menikmatinya atau yang belum bisa membelinya cukup menikmati lagunya aja, palaibada.mp3
sebagian gambar dicomot disini

