Baju Rang Koto Gadang
“Cha, liat tuh, lucu banget deh mahasiswa-mahasiswa itu, bajunya kagak tahan”, kata seorang teman ketika melihat segerombolan mahasiswa asing di salah satu universitas negeri di kota saya dulu. Dibilang mahasiswa yang terlalu asing enggak juga sih, sebab masih mereka juga satu rumpun juga dengan kebudayaan kami Minangkabau, Malaysia. Mungkin Sumatera Barat menjadi salah satu tujuan para pelajar-pelajar malaysia adalah karena kesamaan budaya, Minangkabau (Melayu Hulu) salah satu suku yang membangun Malaysia khususnya di negeri sembilan. Rajanya masih satu garis keturunan dengan raja di Pagaruyung. Selain Minangkabau mungkin ada beberapa suku lagi yang menjadi masih memiliki kekerabatan erat dengan Indonesia seperti Melayu hilir, dan Bugis (di Johor Bahru).
Mahasiswi Malaysia terlihat mencolok ketika mereka berada di depan umum karena gampang dibedakan, dengan ciri khas pakaian mereka. Baju yang lebar dan panjang hingga lutut. Dengan warna baju yang rada-rada ekstrem seperti merah, kuning, hijau, warna-warna yang mencolok mata mereka tetap percaya diri tampil di depan umum. Mereka cuek bebek aja ketika pandangan orang-orang sekeliling mereka terkadang melihat aneh.
Nah, permasalahannya ada ketika kita (orang minangkabau) tidak familiar lagi dengan pakaian tradisional mereka sendiri. Bangga dengam Billabong, Levi’s, Surf. Memang pada era orde baru sentralisasi kekuasaan sangat terasa. semua diindonesiakan, termasuk kebiasaan memakai baju kebaya di acara-acara formal untuk isteri-isteri pejabat. Akhirnya kebudayaan itu berubah hingga sampai-sampai pada acara perpisahan sekolah pun para pelajar yang tamat berlomba-lomba membuat jas dan kebaya biar terlihat keren. lha?
Sepertinya lagu daerah kita yang berjudul baju kurung itu hanya tinggal lagu, katanya baju kuruang nan rancak baju kuruan rang Koto Gadang, yang dibuat sengaja lapang dan dengan lengan yang lebar. Breselandang sutera dan bermanik-manik serta sarung berbunga benang emas tenunan lama.
Sepertinya nggak penting lagi deh kita menceritakan kepada anak-anak kita nantinya bahwa kita dulu punya baju tradisional, baju kuruang. Takut mereka bertanya, kok kita udah gak ada lagi yang pakai baju itu kepada ibunya.
Cukup menikmati lagunya aja, yang bajunya udah tinggal kenangan.




