Saya Bernama Malin Kundang

By Catra

Sudah lebih bertahun – tahun saya meninggalkan kampung halaman saya. Dengan bermodalkan tekad yang kuat saya dengan berat hati meninggalkan tanah kelahiran berikut handai taulan sanak kerabat beserta kebun kelapa belakang rumah yang dulunya sering saya panjat untuk mengambil air kelapanya nan sungguh nikmat.

Ibu saya telah menjanda sedari saya kecil, saya bahkan tidak pernah merasakan bagaimana rasanya punya seseorang ayah. Sesuai dengan kebiasaan di kampung kami, seseorang belum bisa disebut dewasa sebelum bisa mencari makan dengan keringatnya sendiri.

Kampung saya terletak di pinggir pantai. Tepi barat Sumatera. Langsung berhadapan dengan Samudera Hindia yang ganas. Kampung kami merupakan penghasil kelapa yang sangat berpotensi. Namun tetap saja kelapa tak bisa membuat kami bertahan hidup tanpa beras, ikan dan lainnya. Kita tetap berdagang dengan sesekali kapan dagang merapat ke kampung kami.

Sekarang saya telah berada di tanah seberang. Menimba ilmu, mancari pengalaman dan menambah wawasan saya di bidang pelayaran dan perdagangan. Saya telah menikah dengan putri sultan yang menguasai ujung utara Sumatera ini. Dengan syariat Islamnya yang kental.

Sekarang saya berniat pulang, walau sebenarnya saya risih melihat adat istiadat kampung saya yang percaya terhadap hal-hal mistis. Kepercayaan animisme yang kita anut sebenarnya tak sesuai dengan perkembangan dunia pada saat ini. Tuhan yang esa memang yang menciptakan dunia ini beserta isinya. Saya berniat untuk berdakwah di kampung saya ini.

Saya pulang dengan serombongan kapal kerajaan menyusuri tepian barat pulau ini. dari utara hingga sampai ke kampung kecil saya ini. Masyarakat tercengang melihat banyaknya armada yang datang. Jarang-jarang kapal besar datang ke kampung ini.Hal yang pertama saya cari adalah rumah saya. Dengan sedikit bingung saya mencari dimana rumah saya. Tiba-tiba saya dipeluk wanita tua yang mengaku sebagai ibu saya. Saya perhatikan memang mirip saya berpelukan lama hingga menetaskan air mata.

Saya berniat membawanya ke ujung utara pulau ini tinggal di Istana. Namun tiba-tiba ia berbicara, “kenapa engkau berubah, nak?” “kamu bukan tanggang yang dulu lagi, kamu sudah meninggalkan adat kita ini, kamu sangat asing sekarang dengan tampilan mu seperti sekarang”

Saya berusaha meyakinkan ibu saya, mana ajaran yang benar itu. Saya mengajaknya agar segera ,meninggalkan tradisi kuno ini. Menyembah laut dan gunung. Semuanya ada penciptanya. Namun mereka sekampung menoloak. Ah, saya tidak punya jiwa diplomasi yang kuat.

Ibu saya menganggap saya telah keluar dari nilai-nilai leluhur kami. Berbagai macam perkataan penyesalan keluar dari mulut ibu dan sanak-saudara saya. Saya diusir dari kampung. Dan tiba-tiba angin begitu kencang badai menerpa pelayaran kami……

===============================

Malin=Mualim=Nakhoda 

Kundang=Kondang=Terkenal

Tag: , , , ,

36 Tanggapan ke “Saya Bernama Malin Kundang”

  1. Catra Berkata:

    Badai menerpa kapal malin, juga kampung limau manis. Kampung malin dihantam ombak yang sangat besar dan badai yang sangat kencang.

    Paginya matahari terbit dengan cerah. Menerangi kampung, namun air surut hingga ke tengah. Di kejauhan nampak bebatuan karang.

    Malin selamat hingga istana isterinya, kesultanan aceh.

    ================
    Versi Catatatn Rangmudo

  2. Zulmasri Berkata:

    wah, malin kundang versi keberapa nih yang saya baca. sebelumnya ada versi aa navis, wisran hadi, umar junus, goenawan mohamad, dan beberapa versi lain. kesannya ya asyik saja.

    saya sendiri merasa sebagai malin kundang, durhaka pada ibu. bukan ibu kandung, tapi ibu pertiwi, yakni kampung kelahiran saya….

  3. 1nd1r4 Berkata:

    Kalau ini sih Malin Kundang-nya tak durhaka pada ibunya, malah mengjak pada kebajikan. Semoga tak patah arang dan akan tetap kembali dan mengingatkan ibunda untuk berjalan di jalan Allah. Amiin

  4. Catra Berkata:

    Pak Zulmasri:::
    Ini versi yang ke seratus pak, dengan khayalan tingkat tinggi hehehe. Ternyata bakti kita ke tuhan itu no1 kan pak? di atas segala-galanya. heheh

    Indira:::
    Iya mbak, semoga aja tak patah arang dan mencoba lagi untuk mengajak ibunya ke jalan yang benar ;)

  5. p u a k Berkata:

    Malin Kundang zaman sekarang ya, Cat? :D
    Jadi, bagus juga kalau suatu hari Malin datang lagi untuk membangun kampung halamannya. Dari hal yang terkecil dulu, tentu saja.

    • Catra Berkata:

      Uni Puak:::
      Bukan uni, cerita di atas menggambarkan sebuah zaman pada kejayaan kesultanan Aceh. Aneh banget kan uni? gak nyambung ya? haha

  6. Takodok! Berkata:

    Bersambung kan ya cat?

  7. marshmallow Berkata:

    uni belajar dari blog uda zul bahwa ada beragam versi legenda malin kundang, dan ternyata ada satu di sini. uni menikmati tulisan ini. masih bersambung kan, cat? atau penutupnya dianggap sudah diketahui saja?

    • Catra Berkata:

      Uni Mallow:::
      Banyak banget ya versi nya uni? Mungkin ini adalah versi ke seratus. haha. Saya mencoba hubungkan dengan sejarah zaman dahulu uni, ketika Islam belum masuk ke Minangkabau, namun si Malin udah masuk Islam

  8. kezedot Berkata:

    salam persahabatn dech tuk malin…….hehehhe
    salam hangat dalam dimensinya blue

  9. racheedus Berkata:

    Saya hanya ingin menangkap pesan moral dari legenda Malin Kundang, meski mungkin banyak versi. Pesan moral bahwa sang anak harus berbakti kepada orang tua dan tak boleh menyakiti mereka. Namun di atas segalanya, kepatuhan kepada Sang Pencipta adalah yang utama.

  10. Irma Jelita Berkata:

    nice blog,, di link yoo (sesama urang awak)

  11. Ade Berkata:

    duduk manis nungguin sambungannya.. :-)

  12. mas stein Berkata:

    ati-ati lho mas, kalo nanti versi sampeyan ini terkenal banyak buku yang terpaksa harus merevisi isinya :mrgreen:

  13. ekaria27 Berkata:

    Itu namanya Syiar kan..
    durhaka kah..?
    Ah terkadang orang hanya takut akan perubahan..

    Nice anw !

  14. annosmile Berkata:

    wah..
    cerita maln kundang modern di tipi-tipi itu ya

  15. vizon Berkata:

    kalau saya malin benaran cat, MALIN SUTAN, hehehe…

    gara2 legenda malin kundang, akhirnya gelar malin menjadi rancu. imej yg berkembang bahwa malin adalah anak durhaka, padahal sejatinya malin adalah gelar bagi lelaki minang yg memiliki kemampuan di bidang agama, bukankah begitu sutanmudo…? :)

    • Catra Berkata:

      Iya da. Sebenarnya malin itu gelar yang terhormat di ranah Minang. Tapi jadi jelek karena tokoh malin kundang. hahaha

  16. ray rizaldy Berkata:

    jadi malin itu bukan nama sebenarnya toh.
    baru tau daku
    *nice version cat. :D

  17. imoe Berkata:

    baru dengar yang ini…inspirasi ya cat….

  18. suhadinet Berkata:

    bagus, Cat. Hei, aku baca di tempat Imoe, katamu blog yang satu dibuang ke laut aja. Emang kenapa?

  19. unai Berkata:

    malin kundang versi manapun asik aja bacanya. aku sudah baca beberapa versi. ini versinya catra ya?

  20. Hendra Berkata:

    Weiii, catra sabananyo urang minang yo.. Awak magak calek komennyo d blog2 lain. Dari d air manis yo da? Salam kenal :)

  21. da Revan Berkata:

    setau ambo hubungan malin jo nahkoda tu jauah bana cat …
    bahaso awaknyo nahkoda tu kan nahkodo … cmiiw

    ~dR

Tinggalkan Balasan