Salib dan umat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji; Dia tidak ada di salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno; tidak ada tanda apapun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah, dan ke Kandahar aku memandang; Dia tidak di dataran tinggi maupun dataran rendah.
Dengan tegas aku pergi ke puncak gunung Kaf yang menakjubkan; di sana cuma ada tempat tinggal legenda burung Anqa.
Aku pergi ke Kakbah di Mekkah; Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna, sang filsuf; Dia ada di luar jangkauan Avicenna.
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri; di situlah tempat-Nya, aku melihat diri-Nya.
Dia tidak di tempat lain.
(Jalaluddin Rumi)
- related post : Agama Langit, Ciptaan Siapakah?
Tag: agama, buddha, hindu, islam, kristen, malaikat, motivation, theis

26 Mei 2009 pukul 11:02 |
Dia ada di sini, di hati dan pikiranku
26 Mei 2009 pukul 13:21 |
Ia ada sejauh doa.
26 Mei 2009 pukul 15:52 |
berat niyyy
26 Mei 2009 pukul 19:20 |
hmmm…. so nice
udah selesai ujiannya sutan…?
biasanya, orang kalau lagi ujian, religius banget, tapi kalau dah kelar…. au ah, hehehe…
26 Mei 2009 pukul 21:39 |
ya memang biasa gitu ya… cari jauh-jauh padahal ada di dekat kita sendiri.
Cita-citaku adalah mengatakan “Saya tidak beragama, tapi berTuhan”
EM
26 Mei 2009 pukul 22:05 |
MbakPuak:::
Sejauh Doa dan sejauh harapan kita kepadaNya
bg Imoe:::
Berat apanya bg? Siapa yang ngajarin catra tentang yang “berat-berat”? hahaha
Da Vizon:::
Ujian hari ini selesai da, masih ada dua musuh lagi.
Jadi parameter nya ujian ya da? hahah, tingkat kereligius seseorang meningkat ketika ujian.
Mbak Imel:::
Tidak beragama biasanya orang mengasosiasikannya dengan tidak bertuhan nih, Mbak. Benar, bahwa semua agama mengajari kebaikan. Namun ketika kita ke kantor lurah bikin KTP, agama tetap jadi pertanyaan wajib.
26 Mei 2009 pukul 22:18 |
padiah
26 Mei 2009 pukul 23:06 |
postingannya sarat dg ungkapan2 falsafi, mas catra. utk menemukan hakikat dan jatidiri kita, ternyata tak perlu ke mana-mana. postingan yang menarik dan mencerahkan.
26 Mei 2009 pukul 23:40 |
Iya, biasanya kalo hasrat sudah terkabulkan atau tidak sama sekali, hal ini akan amat mudah sekali membuat kita lupa akan kehadiranNya, lupa kalau ta’ luput dari pandanganNya, lupa kalau Ia menunggu “sapaan” kita dengan segala maafNya…
27 Mei 2009 pukul 07:28 |
Hendri:::
Bahasa Endonesia nya, Pedis itu mah bro.
Pak Sawali:::
Tak perlu kemana-mana kan pak. Cukup kita temukan di diri kita masing-masing
Bu Rita:::
Maafkan aku oh, Tuhanku, Maaf kan akan segala dosa-dosaku di hari kemarin. Maaf.
27 Mei 2009 pukul 08:33 |
Dia memang ada di hati kita, dan akan dekat dengan kita kalau kita mendekat denganNya, akan jauh dari kita, kalau kita menjauh dariNya
27 Mei 2009 pukul 09:41 |
Sebenarnya untuk mengukur seberapa dalam iman kita, seberapa dekat hati kita kepada Tuhan, bisa dilihat pada waktu kita memperoleh kebahagiaan atau berada dalam kesenangan. Orang yang sedang susah mendekat kepada Tuhan itu biasa, tetapi orang yang sedang berlimpah kebahagiaan mendekat kepada Tuhan, itu luar biasa …
27 Mei 2009 pukul 11:01 |
wahhh kalimat2 itu indah banget
semuanya memang bermula dihati, ngapain jauh2 tapi ternyata ada di hati
Iman itu dalam hati
27 Mei 2009 pukul 15:57 |
berat postingannya, saya ndak mudheng!
29 Mei 2009 pukul 09:55 |
Jadi kemana harus ku cari ?
Tuhan sang empunya bumi ?
Aku lelah berlari
Ternyata ia ada di dalam hati
salam, EKA
29 Mei 2009 pukul 20:17 |
Kita kadang terlalu banyak bertanya dan mencari, padahal jawabnya sangat dekat dihati
Pa kabar cat…lama ga mampir nich