Dia Tidak di Tempat Lain

By Catra

Photobucket

Salib dan umat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji; Dia tidak ada di salib.

Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno; tidak ada tanda apapun di dalamnya.

Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah, dan ke Kandahar aku memandang; Dia tidak di dataran tinggi maupun dataran rendah.

Dengan tegas aku pergi ke puncak gunung Kaf yang menakjubkan; di sana cuma ada tempat tinggal legenda burung Anqa.

Aku pergi ke Kakbah di Mekkah; Dia tidak ada di sana.

Aku menanyakannya kepada Avicenna, sang filsuf; Dia ada di luar jangkauan Avicenna.

Aku melihat ke dalam hatiku sendiri; di situlah tempat-Nya, aku melihat diri-Nya.

Dia tidak di tempat lain.

(Jalaluddin Rumi)

 

Tag: , , , , , , ,

16 Tanggapan ke “Dia Tidak di Tempat Lain”

  1. Catra Berkata:

    Dia ada di sini, di hati dan pikiranku

  2. p u a k Berkata:

    Ia ada sejauh doa. :)

  3. imoe Berkata:

    berat niyyy

  4. vizon Berkata:

    hmmm…. so nice :)

    udah selesai ujiannya sutan…?
    biasanya, orang kalau lagi ujian, religius banget, tapi kalau dah kelar…. au ah, hehehe… :)

  5. Ikkyu_san Berkata:

    ya memang biasa gitu ya… cari jauh-jauh padahal ada di dekat kita sendiri.

    Cita-citaku adalah mengatakan “Saya tidak beragama, tapi berTuhan” :)

    EM

  6. Catra Berkata:

    MbakPuak:::
    Sejauh Doa dan sejauh harapan kita kepadaNya

    bg Imoe:::
    Berat apanya bg? Siapa yang ngajarin catra tentang yang “berat-berat”? hahaha

    Da Vizon:::
    Ujian hari ini selesai da, masih ada dua musuh lagi. :)
    Jadi parameter nya ujian ya da? hahah, tingkat kereligius seseorang meningkat ketika ujian. :mrgreen:

    Mbak Imel:::
    Tidak beragama biasanya orang mengasosiasikannya dengan tidak bertuhan nih, Mbak. Benar, bahwa semua agama mengajari kebaikan. Namun ketika kita ke kantor lurah bikin KTP, agama tetap jadi pertanyaan wajib.

  7. hendri Berkata:

    padiah

  8. sawali tuhusetya Berkata:

    postingannya sarat dg ungkapan2 falsafi, mas catra. utk menemukan hakikat dan jatidiri kita, ternyata tak perlu ke mana-mana. postingan yang menarik dan mencerahkan.

  9. Rita Berkata:

    Iya, biasanya kalo hasrat sudah terkabulkan atau tidak sama sekali, hal ini akan amat mudah sekali membuat kita lupa akan kehadiranNya, lupa kalau ta’ luput dari pandanganNya, lupa kalau Ia menunggu “sapaan” kita dengan segala maafNya…

  10. Catra Berkata:

    Hendri:::
    Bahasa Endonesia nya, Pedis itu mah bro.

    Pak Sawali:::
    Tak perlu kemana-mana kan pak. Cukup kita temukan di diri kita masing-masing

    Bu Rita:::
    Maafkan aku oh, Tuhanku, Maaf kan akan segala dosa-dosaku di hari kemarin. Maaf.

  11. radesya Berkata:

    Dia memang ada di hati kita, dan akan dekat dengan kita kalau kita mendekat denganNya, akan jauh dari kita, kalau kita menjauh dariNya

  12. tutinonka Berkata:

    Sebenarnya untuk mengukur seberapa dalam iman kita, seberapa dekat hati kita kepada Tuhan, bisa dilihat pada waktu kita memperoleh kebahagiaan atau berada dalam kesenangan. Orang yang sedang susah mendekat kepada Tuhan itu biasa, tetapi orang yang sedang berlimpah kebahagiaan mendekat kepada Tuhan, itu luar biasa …

  13. Ria Berkata:

    wahhh kalimat2 itu indah banget
    semuanya memang bermula dihati, ngapain jauh2 tapi ternyata ada di hati
    Iman itu dalam hati :)

  14. mas stein Berkata:

    berat postingannya, saya ndak mudheng!

  15. Eka Situmorang-Sir Berkata:

    Jadi kemana harus ku cari ?
    Tuhan sang empunya bumi ?
    Aku lelah berlari
    Ternyata ia ada di dalam hati

    salam, EKA

  16. 1nd1r4 Berkata:

    Kita kadang terlalu banyak bertanya dan mencari, padahal jawabnya sangat dekat dihati :)
    Pa kabar cat…lama ga mampir nich

Tinggalkan Balasan