Beranda > ceritaKu > Serdadu Baktimu Kami Tunggu

Serdadu Baktimu Kami Tunggu

Photobucket

Kopassus

Sedih ketika melihat berita pesawat hercules TNI jatuh di pemukiman penduduk. Ratusan jiwa menjadi tumbal. Mereka meninggal bukan di medan pertempuran di tengah hutan kalimantan melawan Malaysia. Juga bukan di perairan Aru di Irian Jaya melawan Belanda. Juga bukan di Pulau Timor melawan Fretilin Guerilla.  Mereka mengantarkan nyawanya masuk ke dalam peti mati yang bernama hercules.

Sebenarnya sekarang bangak alutsista TNI-POLRI yang telah menjadi barang rongsokan dan perlu diremajakan. Mulai dari pesawat tempur kita. Kapal tempur,  Senjata api, Tank, Meriam dan lain sebagainya. Jangan bangga dulu kita semua punya sukhoi, sukhoinya masih ompong lho. Para Jenderal berteriak meminta anggaran pertahanan dinaikkan. Berdalih tanpa anggaran yang cukup TNI tak akan bisa bekerja dengan sempurna. Pak Beye pun menjawab, TNI tak harus kuat sekali. Ya, menimbang banyaknya sektor-sektor lain yang harus didahulukan di zaman sekarang ini, semisal pendidikan dan kesehatan. Kalau ingin TNI menjadi sebuah kekuatan super di dunia ini Indonesia bisa, sangat bisa. Namun ada konsekuensi nya, rakyat Indonesia kelaparan. Duh, lagi-lagi anggaran jadi kambing hitam.

Kita memang pernah membuat kawasan bergetar dengan kekuatan kita. Peristiwa Ganyang Malaysia, memperlihatkan Indonesia mampu masuk ke daerah pertahanan Malaysia. Itupun baru menerjunkan angkatan kelima (relawan). Belum menerjunkan pasukan dari semua angkatan Full (sttt… TNI AD pada saat itu gak mau melaksanakan perintah Presiden, Bung Karno). Pada saat itu Indonesia bisa melancarkan serangan-serangan di kalimantan Utara melawan tentara dari empat negara, Inggris, Australia, Selandia Baru dan Malaysia sendiri.

Atau pada masa perebutan Papua Barat. Aksi heroik pasukan Indonesia saat Infiltrasi ke sana. Juga, pertempuran laut KRI macan tutul pimpinan Yos Soedarso dengan Belanda di sana. Aha, belum lengkap kalau belum menyebutkan serangan umum 1 Maret. Peristiwa Ambarawa dan lain sebagainya. Dengan semangat berapi-api bermodalkan bambu runcing dan berani mati. Kita siap membela negara kita. Saat itu anggaran kita belum sampai trilyunan lho.

Sekarang, saat Kapal Diraja Malaysia masuk ke Ambalat, karena mereka juga mengklaim hak atas wilayah itu. TNI berdalih tak bisa bekerja maksimal menghalau kapal itu.

Wakil KSAL Laksamana Madya TNI Moekhlas Sidik berkata, ”Misalnya kalau yang biasa patroli kapal fregat diturunkan jadi kelas korvet,”     (lho?Pak dulu waktu dapat anggaran yang banyak kok malah jenderal nya yang bergelimangan?) 

Pak Jenderal, harapan kami ada di pundakmu. Harapan kami rakyat Indonesia untuk dijaga kedaulatan negara kita. Kedaulatan tanah tumpah darah kita. Tanah Air Indonesia.

Related Post:

  1. 27 Mei 2009 pukul 12:00 | #1

    Ujung-ujungnya duit, nih.

  2. 27 Mei 2009 pukul 12:34 | #2

    Serdadu? sama saja,..

  3. 27 Mei 2009 pukul 15:23 | #3

    bisa aja alasannya si pak jendral.

  4. 27 Mei 2009 pukul 15:45 | #4

    tak kira tadi, serdadu seperti peluru…?

  5. 27 Mei 2009 pukul 15:46 | #5

    Dedekusn:::
    Maksudnya sama dengan apa mas?

    Ray:::
    hahaha… bisa apa nya

    Randualamsyah:::
    Itu mah lagunya Iwan Fals, Om

  6. 27 Mei 2009 pukul 15:47 | #6

    duwit… duwit…

  7. 27 Mei 2009 pukul 15:59 | #7

    semoga anggaran yang memang mepet itu bisa dipake maksimal, ndak kececer dimana-mana

  8. 27 Mei 2009 pukul 16:00 | #8

    Wempi:::
    UUD, ujung ujungnya duit. :mrgreen:

    Mas Stein:::
    Amin mas, semoga gak tumpah kemana-mana ya mas ya

  9. 27 Mei 2009 pukul 16:15 | #9

    Alutsista (Alat utama sistem senjata) yang dimiliki oleh INDONESIA sebenarnya tidak semuanya dapat dikatakan tidak laik. Menurut ku alutsista yang harus benar2 diperhatikan untuk segera diremajakan terutama sekali adalah untuk kapal perang, dan pesawat tempur. Sedangkan untuk peralatan yang lain seperti handgun, mortir, tank, dan lain2 sebagainya dapat dikatakan dapat bersaing dan tidak dapat dipandang sebelah mata.

    Mungkin kalo Catra ingin lebih mengetahui ttg persenjataan yang dimiliki dan kualitas dari persenjataan yang dimiliki Indonesia, Catra sebaiknya KP di Pindad aja, dan anak2 mesin banyak yang KP di sana….

    dari http://www.globalfirepower.com/ Indonesia menempati peringkat ke-13 dalam hal kekuatan militer…

    • 27 Mei 2009 pukul 16:28 | #10

      Nah, itu dia bang. dati segi kuantitas memang kita gak kalah. Namun udah pada jadi usang semua. Harus diremajakan dengan maintenance yang baik. dan berkala.

      Masalah KP ya bang, masih ragu nih, pengen di industri atau di lapangan (ladang minyak /tambang) haha

  10. 27 Mei 2009 pukul 20:09 | #12

    mantap siap komandan Grakck . . .ha ha serdadu ayo pantang mundur

  11. 28 Mei 2009 pukul 00:22 | #13

    memang sungguh menyedihkan menyaksikan pesawat militer yang usdah usang tapi tetep juga dioperasikan hingga akhirnya korban terus saja berjatuhan. sementara itu, daerah perbatasan agaknya juga sangat rawan. apa pun yang terjadi, kedaulatan negara harus tetap dipertahankan. meski kekuatan rakyat bisa menjadi modal utama, kekuatan TNI tetep harus solid.

  12. 28 Mei 2009 pukul 07:55 | #14

    semoga serdadu kita dilengkapi dengan bekal peralatan yang cukup untuk menjaga kedaulatan bangsa dan negara serta tanah air Indonesia.
    Malu kaau kekayaan laut kita dirampok kapal-kapal asing.
    Malu kalau daerah perbatasan kita di gunung-gunung itu di injak-injak orang asing.
    Malu kalau wilayah udara kita diterbangi pesawat-pesawat negara lain dengan teramat gampangnya.

  13. 28 Mei 2009 pukul 10:32 | #15

    Kebanyakan urusan kali ya.. jadi nggak fokus sama hal-hal seperti ini.
    Gak gampang, itu benar. Tapi sebenarnya kan sudah ada yang pihak yang bisa menghandle.. kok ya, pass lagi.
    Kalau udah gini, nyalahin bugdet emang empuk sekali. :)

  14. 28 Mei 2009 pukul 16:11 | #16

    Sebenernya bingung klo ngomongin anggaran.
    Klo dibilang anggaran TNI kecil, kok jenderalnya kaya-kaya.

    Klo dibilang anggaran TNI udah besar, kok alutsista nya ga optimal, TNI operasional juga hidupnya ga begitu layak.

    Kayaknya siy problemnya bukan anggaran yang kecil, tapi manajemen anggaran yang masih rawan kepentingan pihak tertentu.

  15. 28 Mei 2009 pukul 20:00 | #17

    elati melatih diri kami
    Berani menghadapi hidup ini
    Sebagai pribadi, maupun institusi
    Kami, alat negara bermental baja
    Meski musuh menghadang bergantian
    Walau alam menantang berkelindan
    Kami bahu-membahu bersatu
    Menjaga keutuhan bangsa
    … dalam satu negara, satu bendera
    Serdadu, di kota, di desa, di hutan…
    Serdadu, di raga, di jiwa, di pikiran…
    Serdadu, di depan, di sisi, di belakang…
    Serdadu, diharapkan, disepelekan, diasingkan…
    Kami, tetap jaya, tetap maju, tetap berjuang
    Musuh tak kan hilang, hanya berganti tampang
    Kami, tetap lihat, tetap dengar, tetap berbuat
    Karena kami… sayang ibu pertiwi!

    Tapi itu dulu…
    sekarang hanya hampa..selongsingan berulah..menelikung hati meringsek dibelantara jantung..

  16. 29 Mei 2009 pukul 01:03 | #18

    Ironis memang…

    Bukan hanya jiwa raga yang di berikan…kehidupan materi mereka yang terbilang minim pun sepertinya tak membuat prajurit surut semangatnya yaa…salut dan bravo buat prajurit! Jangan salahkan mereka, bila ada yg sampai suicide akibat tekanan yang besar itu!

    Salam kompak bro!

  17. 29 Mei 2009 pukul 05:00 | #19

    menarik beberapa artikel di Kompas, menujukan bahwa penaikkan anggaran militer tidak harus relevan dengan secara drastis menambah jatah anggaran. Dengan efiesiensi, transparansi pemesanan alustita, pemotongan calo calo, bisa sangat berpengaruh.
    * sekedar tambahan dalam Gayang Malaysia, Indonesia tidak secara resmi mengakui atau terbuka, perang dengan Malaysia atau Inggris. Jadi memakai tentara relawan yang sebenarnya sebagian besar juga terdiri dari AD dan KKO – AL. Sebuah standar operasi militer yang normal, ketika Perang belum secara resmi, tapi inflitrasi memakai pasukan relawan yang seolah olah tentara laskar Kalimantan Utara. ( Lihat Biografi Benny Moerdani, ia memakai seragam Tentara Nasional Kalimantan Utara ). Memang ada keengganan sebagian Jenderal untuk menerjunkan pasukannya. Tapi secara operasional AD tetap menjadi tulang punggung inflitrasi

  18. 29 Mei 2009 pukul 06:55 | #20

    salam kenal mas
    serdadu………..ooh nasibmu, aku menunggu…….
    heheheh
    tx

  19. 29 Mei 2009 pukul 09:58 | #21

    Budget menjadi kambing hitamnya ?
    Udah biasaaaaaaa !!
    Tapi bugdet yg udh mefet itu.. moga gak ada yg disunat
    tapi semua memang dilaksanakan sesuai anggaran

  20. 29 Mei 2009 pukul 10:22 | #22

    Sedihnya,….. para alumni SMA bangga jika diterima di AKABRI..begitu pula para cewek bangga jika punya pacar taruna AKABRI yang gagah dan tampan itu.
    Krisis ekonomi sejak 10 tahun laku, membuat peralatan untuk TNI menjadi kurang diperhatikan karena anggaran terbatas, …namun melihat kenyataan sekarang dan juga kecelakaan yang berkali-kali menimpa TNI..semoga masyarakat sadar bahwa mereka sangat dibutuhkan oleh negara ini, dan harusnya kita bangga terhadap penjaga kedaulatan wilayah Indonesia ini.

  21. 29 Mei 2009 pukul 14:32 | #23

    Jadi inget Ayah saya yang TNI … ah seradu kami :)

  22. 29 Mei 2009 pukul 15:07 | #24

    lam kenal… =)

  23. 29 Mei 2009 pukul 20:20 | #25

    Budget dimana2 selalu dijadikan alasan….memang cat UUD banget

  24. 29 Mei 2009 pukul 21:34 | #26

    benar kata orang batak: hepeng na mangatur nagaraon, uang yang mengatur negara. tarik ulur anggaran itu memang wajar, karena modal kita memang sangat terbatas. di saat alutista tak dirasa jadi prioritas, tentunya ada hal-hal lain yang lebih krusial yang jadi pertimbangan utama.

    tapi benar bahwa perawatan jadi sangat penting dalam kondisi begini. sebagai analogi sederhana, bila kita belum mampu membeli kendaraan baru, tentunya kendaraan lama yang ada dirawat sebaik-baiknya agar masih bisa berfungsi optimal. mungkin jadi agak boros bbm atau perlu sering servis, namun tak lantas jadi gampang mengalami kecelakaan, kan?

    ah, bicara apa pula aku ini…

  25. 30 Mei 2009 pukul 14:25 | #27

    dulu orang pake bambu runcing aja tuh…apa gak bisa pake itu lagi kalo gak ada duit…kan TNI punya banyak bisnis tuhhhh bisa digunain gakkk

  26. 30 Mei 2009 pukul 22:35 | #28

    @marshamallow : botul itu bunda
    btw aku cuma mau bilang, pak tentara lindungi dan semoga Indonesia TETAP JAYA SELALU
    HIDUP INDONESIA TANAH AIRKU dan tanah air seluruh rakyatnya

  27. Ade
    3 Juni 2009 pukul 05:19 | #29

    bingung mau komen apa yaa.. *mikir dulu yak*

  28. 24 Agustus 2009 pukul 12:21 | #30

    Kita tunggu Mas Catra yg jadi Menhan.
    Mudah2an beres… hahahha….

  29. 16 September 2009 pukul 18:27 | #31

    moga negara bisa nambah peralatan yg lebih canggih lagi

  30. Feny
    2 Desember 2009 pukul 13:12 | #32

    Q jadi inget ma kekasih q yang ge dinas… hiks,, hiks
    Hidup serdadu….

  1. Belum ada trackback.