Ternyata Saya Masih Seorang Indonesia. Visit Indonesia 2009
Kita Indonesian bung, baru sadar saya ternyata saya seorang Indonesia. Saya pikir saya seorang Albania. Ya, Indonesia. Saya baru sadar ternyata Indonesia ini memiliki berbagai macam suku ; Aceh, Batak, Minang, Jawa, Sunda, Bugis berbagai macam agama ; Islam, Kristen, Hindu, Budha. Berbagai macam Ras : Melayu (masih mau kan dibilang ras Melayu?), Arab, Chinesse, Austroloid (Papua, Ambon, Nusa Tenggara dan temannya). Punya berbagai macam budaya dan adat istiadat yang menjadi ciri khas masing-masing daerah kita. Anda berani nggak naik sepeda dari Sabang sampai merauke. Atau naik biduk dari miangas sampai pulau Rote. Gila. Naik pesawat dari Cengkareng ke Jayapura aja udah seperti ke Eropa.
Omong-omong soal Budaya, kemarin saya menghadiri acara Travel Mart 2009 di Enhaii. Acara ini proyek mahasiswa pariwisata yang mengeksplorasi kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia. Saya terkagum melihat pada penari yang menarikan tari dayak lengkap dengan baju adat dan propertinya semisal tongkat perangnya. Ataupun melihat geliat sebuah provinsi baru Bangka Belitung yang memamerkan sedikit kebudayaan China nya. Saya pikir-pikir Indonesia ini kaya akan budaya. Kok saya telat ya sadarnya? Yaelah kemana aja saya selama ini.
Seandainya budaya-budaya ini dikemas dalam sebuah bentuk kemasan yang menarik, alangkah besarnya income pendapatan kita di bidang pariwisata ini. Jangan kaget lho kalau Bali merupakan #1 di Asean World Paradise, mengalahkan Phuket di Thailand atau Pattaya nya. Mentawai juga termasuk jajaran pulau yang memiliki pantai yang bagus buat berselancar. Selama ini kita cukup bangga memiliki Bali sebagai penyedot pariwisata kita. Sebenarnya kita bisa membuat Bali lainnya melihat potensi Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki puluhan ribu pulau. Semenjak Pak Harto jatuh, dunia pariwisata Indonesia seakan-akan tak diperhatikan lagi. Saya paham kita lagi sibuk mengurui masalah politik yang masih belum stabil atau masalah ekonomi yang fluktuatif.
Namun pengelolaan pariwisata merupakan ujung tombak terdepan untuk membawa nama Indonesia ke dunia luar. Sayangnya pengelolaan itu masih belum professional. Bayangkan saja beberapa tahun yang lalu banyak dibuka penerbangan Padang-Kuala Lumpur. Banyak wisatawan dari negeri jiran itu ingin melihat langsung kebudayaan induknya di Sumatera Barat. Terlebih mereka sangat antusias ketika akan mengunjungi pantai air manis tempat legenda batu Malin Kundang. Namun kekecewaan yang malah di dapat. Tempat pariwisata yang hanya dikelola penduduk setempat, kebersihan yang kurang memadai dan ketidaknyamanan lainnya.
Tak usah lah melihat kondisi pariwisata tingkat lokal itu. Kondisi Pariwisata tingkat Internasional pun juga masih belum cukup. Di candi Borobudur terdapat perbedaan harga tiket untuk wisatwan lokal dan wisatawan mancanegara. Yah, alih-alih meingkatkan pendapatan devisa. Namun ketika para bule itu merasa didiskriminasikan? Bisa-bisa ia tak akan datang lagi ke negara yang mereka pikir rasis ini. Atau bila ada wisatwan dari negara serumpun malaysia atau Brunnei misalnya, bisakah kita membedakan mereka. Atau Teman-teman kita chinesse yang bisa-bisa mereka pikir chinesse singapura atau dari tiongkok beneran.
Kok malah jadi ngawur begini ya? Yo Wess lah, Visit Indonesia 2009 ya!!! Gambar dicomot disini
Related Post






Kota Indah, Indah kota
Berkunjunglah ke air terjun tawangmangu…
mahal juga ya
saya setuju bila pariwisata harus dikelola dg baik dan profesional. tapi, penguatan budaya kita harus terlebih dahulu dilakukan terhadap generasi muda. agar, mereka tidak mudah meniru budaya luar yg datang, dan sebaliknya setiap turis yg datang menghormati budaya kita dan berusaha mengimbanginya. maksudnya, agar setiap turis yg datang tidak seenaknya berperilaku seperti di negara mereka.
bali sebagai contoh, telah sangat tidak indonesia menurut saya saat ini. lihat saja tingkah pola masyarakatnya, sudah seperti kehidupan bule. budaya yg mereka tonjolkan hanya kegiatan ritual atau seremonial belaka, tidak menyentuh aspek filosofinya. para bule yg berkeliaran di pulau itu, dg seenaknya bertingkah seperti di negara kita, dan lacurnya, generasi muda kita dg mudah menirunya.
meningkatkan pariwisata adalah penting, tapi meningkatkan pemahaman budaya generasi muda jauh lebih penting… I love Indonesia!
Lho Catra saya kira kamu dr Afrika…?
Peaceeee…..
niwey… percaya banget Indonesia itu sebenar – benarnya TRULY Asia !
Ragam budaya nya, unik tarian, pakaian juga alamnya itu berbeda dengan banyak negara.
Pengelolaannya perlu diperbaiki, niscaya devisa mengalir deras
harga tiket yang berbeda gak cuma di borobudur mas, rata-rata tempat wisata kita gitu kok. jadi ngomong-ngomong sampeyan lebih suka jaman pak harto neh?
pariwisata itu pasti memberikan efek pada daerah tujuan wisata itu. baik dan buruk. contoh yang baik yaaa.. masyarakat sekitar sana pendapatannya jadi lebih tinggi mungkin..

yang buruk lebih banyak keknya… contohnya; tempat2 hiburan makin banyak, prostitusi, dll.. lihat aja Kuta. sepanjang pantai banyak diskotik, hotel-hotel ‘multifungsi’, penjual diri..
banyak daerah “indah” tujuan wisata di negeri ini yang belum siap dengan efek buruk tsb. gak usah jauh-jauh.. liat aja sumbar…
btw.. visit indonesia year 2008 dulu gimana ya kabarnya?
Seperti Uda Vizon, meningkatkan pemahaman akan pentingnya budaya bangsa bagi para pemuda lebih penting. Andai para pemuda kita seperti kamu Cat, mencintai dan melestarikan budaya bangsa…… Sayang, justru para pemuda kita cenderung melupakan budayanya sendiri…
Visit Indonesia 2009 juga kurang terdengar gaungnya..
Coba digarap dengan sungguh2 dan profesional, pastinya akan lebih sukses dan banyak mendatangkan turis dan menambah pundi2 devisa
Setuju Cat.. Masih banyak ‘Bali’ lain di Indonesia ini untuk dikembangkan, jika pariwisata kita lebih di perhatikan.
Apa nunggu pemilihan Presiden dulu, gitu?.. yuk, maree..
pantai piaman lebih menarik cat hehehe
jangan lupa juga sama turis lokal, kadang turis lokal diremehkan dan ga boleh masuk suatu fasilitas. tapi pas bule ga boleh. *pengalaman pribadi. huhuhu.
ha…ha…ha…
berarti gw lebih cepat sehari nyadarnya
Indonesia memiliki alam yang luar biasa indah dan kaya, tapi maaf mas, orang2 yang duduk di pemerintahan daerah yang menangani bidang pariwisata kadang2 bukan orang yang kompeten di bidangnya, jadi jangan salahkan kalo pariwisata tidak maju. Yang saya herankan kemana ya lulusan sekolah tinggi pariwisata? b arangkali mereka harus di dudukkan di pemerintahan dan mengurusi bidang pariwisata dan memang harus concern juga .
ups jadi panjang, intinya the right man in the right position, maka pariwisata negeri ini akan maju, dan kekayaan alam, kekayaan budaya tidak akan jadi sia2
we are truly Asia, Indonesia is Truly Asia
dan aku bangga menjadi bagian dari Indonesia
udah biasa tuh cat, benar juga kata said. pariwisata diurus seringnya oleh orang yg tidak kompeten. sadiah
Wah, ikut senang ada anak muda yang “care” pada budaya Indonesia.
Btw, thanks ya sudah mampir di “rumah” saya. Oh ya, anak saya (Prima, senior Catra) sudah diterima bekerja di Pertamina.
Diskriminasi memang ada di mana-mana, Cat. Temanku yang asli Minang kerap bisa kasbon makan di warung Padang depan. Akrabnya minta ampun mereka. Hihihi…
Sama Cat, saya juga masih Indonesia…walopun sesekali suka lupa diri, hehehe
soal tiket itu saya setuju banget, udah pernah saya singgung dalam salah satu postingan. Di Aussie, warga negara manapun sama, yg beda adalah antara dewasa, anak2, pelajar dan pensiunan.
saya yakin INDONESIA mampu maju…
hmmm soal tiket… memang selayaknya sama harganya. Tapi kalau wisdom yang disamakan dengan wisman, maka tidak ada wisdom yang mau datang karena “tidak mampu bayar”. Kalau sebaliknya? hmmm perlu dicoba apakah bisa menutupi maintainance. Rupiah tidak bisa dibandingkan denga dollar dan yen sih. (jadi mau ikut setuju dengan pernyataan DM bahwa dikriminasi ada di mana-mana)
Soal transportasi yang mahal dari Jakarta- Jayapura ya memang merupakan masalah karena pesawat perlu biaya yang tidak sedikit. Jepang juga mengalami masalah itu. Karenanya orang Jepang sendiri kalau mau berwisata dalam negeri harus menyediakan budget yang mungkin 2-3 kali lipat daripada kalau dia ke LN. TAPI, tetap orang Jepang melakukan wisata domestik, entah karena cinta tanah air, atau tidak berani ke LN karena tidak bisa bahasa Inggris. Hmmm mungkin kalau membahas ini sudah menyangkut mentalitas bangsa juga ya.
EM
salam kenall =)
blogwalking…
mampir iah ke blog saiia..
http://pelangiituaku.wordpress.com/2009/08/10/belajar-kehidupan-dari-lirik-%E2%80%98mbah-surip%E2%80%99/
makasiihh =)
Indonesia adalah negara yang paling baik bagi saya, tempat di mana saya dibesarkan hingga sekarang.