Celoteh Iseng

ITB sepi

ITB sepi

Pagi itu sangat cerah, maklum semalam langit Bandung memuntahkan cairannya tanpa henti ke tanah. Parkiran di kampus sudah terlihat ramai. ITB mungkin menerapkan ideologi sosialis di kampus ini. Anak berduit dan tak berduit terlihat sama di dalam kampus. BMW mereka tak boleh memasuki kampus. Mari kita sama-sama menikmati rindangnya pohon-pohon di kiri kanan Boulevard ITB. Tapi curangnya yang memakai sepeda berkeliaran di sekeliling kampus mencibir saya yang lagi berjalan. Haha

Tujuan saya saat itu adalah ke Lab Fluida, lab yang katanya diisi oleh mayoritas teman-teman batak. Kabarnya sih nilai Mekflu udah keluar. Lengkap dengan tas saya yang berisikan bahan-bahan ujian yang akan diujikan nanti sore. Jurusan saya jurusan paling aneh se dunia. Satu-satunya jurusan yang tidak memakai waktu perkuliahan sewaktu ujian dengan memakai waktu lain, malam hari, usually. Sesampai di lab ternyata nilai belum keluar, langkah saya semakin gontai meninggalkan gedung jurusan tak tahu arah. Kaki saya mengarahkan saya ke gerbang utara, otak saya masih berpikir, apa yang bakal saya jawab di ujian nanti. Kaki saya berbelok memasuki Perpustakaan Pusat. Saya masuk, saya merasa asing, dan seolah ada missed, kemana saja ya saya selama ini, kenapa saya tidak terlalu memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh Institusi ini? Saya berpikir semakin dalam sambil menghempaskan badan ke kursi empuk di dalam perpustakaan. Banyak terlihat pejuang-pejuang lain seperti saya.

Apakah saya terlalu autis, selama ini saya hidup bagaikan mempunyai dunia sendiri, unit sendiri, kuliah pulang. Saya seperti kupu-kupu bodoh yang terbang tanpa mencari kembang yang akan menyuntikkan energi.

Saya mencoba membuka bahan-bahan kuliah. Dari tingkat satu dulu saya tak tertarik untuk belajar kelompok, ya saya memang autis. Belajar kelompok tidak akan membuat saya mengerti malah membuat saya jadi tambah bingung. Saya lebih suka belajar sendiri, atau palingan dua atau tiga orang yang benar-benar serius untuk belajar. Saya hidup di kampus yang menerapkan aturan-aturan akademik yang ketat. Kampus ini men DO ratusan mahasiswanya setiap tahun. Mengerikan.

Sekarang saya akan mencoba untuk menjadi mahasiswa lagi :)

21 Responses to “Celoteh Iseng”


  1. 1 Wempi 5 January 2010 at 22:36

    dah jarang update nih si bos… :lol:

  2. 3 morishige 5 January 2010 at 23:07

    sama nih. saya juga merasa begitu. jarang belajar bareng di kampus, jarang nongkrong di himpunan atau perpus, lebih enak belajar sendiri (dengan alesan yang sama: malah tambah bikin pusing :mrgreen: )…

  3. 5 vizon 6 January 2010 at 00:06

    soal belajar, kita punya gaya masing-masing, tidak bisa disamaratakan antara satu person dengan person yang lain. belajar kelompok mungkin bisa jadi solusi bagi seseorang, tapi bisa jadi “ancaman” bagi seseorang yang lain… so, temukan saja cara belajar kita sendiri-sendiri…

    selamat menikmati perpustakaan Cat. bagi saya, itu adalah tempat paling indah sejagad, hehehe… :D

    • 6 Catra 6 January 2010 at 09:28

      Ancaman disini maksudnya apa ya, Uda? hehe
      apakah ancaman bahwa materi yang didiskusikan belum dipelajarinya, sehingga jadi panik sendiri ya? hehe

      Memang benar pak, perpustakaan tempat paling nyaman di kampus saya. :D

  4. 7 alfarolamablawa 6 January 2010 at 01:09

    hahaha
    menjadi mahasiswa kembali…
    saya suka nich kalimat…banyak yang kena dengan kalimat ini

  5. 9 ikkyu_san 6 January 2010 at 05:02

    soal perpustakaan aku juga jarang sekali pakai.
    Padahal begitu nyaman perpustakaan di sini, cari buku pakai sistem opac, bisa nonton video sendiri dll.
    Biasanya buku-buku yang diperlukan, saya akan beli dan baca di rumah. Kalau tidak bisa beli saya fotocopy, tapi tidak bisa saya berada dalam perpustakaan lebih dari 1 jam.
    Soal belajar berkelompok? Malah saya hindari karena biasanya justru akan membuang waktu (bukan sok, tapi seakan yang aktif saya sendiri)
    Jadi, lakukanlah sesuai dengan gaya belajar masing-masing. Yang penting kan hasilnya.
    Gambatte ne

    EM

    • 10 Catra 6 January 2010 at 09:40

      Belajar kelompok bagi mbak imel lain namanya ya, Mbak? Bukan belajar kelompok tapi Mbak mengajari kelompoknya :lol:

      Sepertinya Mbak Imel juga sama dengan saya. Gak terlalu memanfaatkan fasilitas perpustakaan

      Apakah kita termasuk digolongan orang merugikah mbak? :)

      • 11 ikkyu_san 6 January 2010 at 09:53

        mungkin perlu diketahui bahwa saya bukan bidang eksakta (sosial-humaniora), jadi tidak ada praktikum segala. Berdiskusi dengan teman-teman yang belum membaca buku-buku teori = membuang waktu, karena masing-masing harus berbekal baca buku dulu baru bisa bicara untuk presentasi. Lagipula minat orang kan berbeda-beda. Di sini ada yang namanya seminar, waktu mahasiswa mempresentasikan laporannya…. dan biasanya pertanyaan datang dari dosen saja, karena mhs lain tidak berminat dengan bidang yang dia presentasikan. Apalagi orang Jepang…wah OTAKU semuanya sendiri (sekali lagi bukan eksakta loh, mungkin kalau eksakta seperti kedokteran HARUS berkelompok justru karena masing-masing punya spesialisasinya sendiri untuk bisa mendiagnosa penyakit satu orang)

        Rugi?
        ngga ahhh, buku kan tidak harus dibaca di perpustakaan saja. Yang mau dipakai itu buku atau perpustakaan? Kalau lebih konsentrasi baca di WC, ya baca saja di WC berjam-jam hihihi

        EM

      • 12 Catra 6 January 2010 at 10:31

        ooh, jadi disana ya mbak, letak perbedaan cara belajar antara orang eksakta dan humaniora.
        Sepertinya metoda belajar saya lebih cocok ke humaniora deh, :mrgreen:
        Bdw, saya malah penasaran sama perpustakaan di Jepang itu mbak. Lebih keren kayaknya.

        *Besok saya akan coba juga deh baca buku di WC* :mrgreen:

  6. 13 marshmallow 6 January 2010 at 08:33

    wah, cara belajar berkelompok sebenarnya sangat efektif, sehingga metode inilah justru yang diadaptasi kemudian dalam kurikulum. keuntungannya banyak, tak perlulah uni bahas di sini. tapi bahkan belajar pun adalah suatu keterampilan, dan perlu diasah dengan mempraktikkannya terus-menerus. cobalah perlahan-lahan bentuk kelompok diskusi yang sutan rasa paling bikin nyaman. bagi tugas, setiap orang akan belajar dan mengajar. pasti lebih seru.

    pelajaran akan semakin dimengerti kalau kita berusaha menjelaskan pula kepada orang lain. dan kita tidak akan merasa benar sendiri kalau ada teman yang bisa memberi umpan balik. coba deh.

    • 14 Catra 6 January 2010 at 09:43

      Oke deh Mbak, akan saya coba. Sepertinya di tingkat-tingkat menjelang tingkat akhir ini akan banyak saya jumpai belajar kelompok ini. Sebuah tim riset atau penelitian bakal bekerja secara tim.

      Thanks Uni Mallow

  7. 15 ray rizaldy 6 January 2010 at 10:32

    hehehe, sama daku juga. baru ngeh ke perpus setelah te-a.
    kalo dibilang, perpus pusat untuk anak tpb belajar ujian. perpus jurusan untuk anak terakhir. :D

  8. 16 Rinaldi Munir 6 January 2010 at 16:15

    Jadi itu celotehnya, Cat? Tahu nggak sejarahnya kenapa di Mesin (juga di Sipil) ujian selalu diadakan pada malam hari?

    • 17 Catra 6 January 2010 at 18:21

      waduh, itu gak tahu juga saya pak, baru masuk jurusan tau-taunya udah disodorkan aja jadwal ujian, ya saya terima-terima aja pak.
      Pak dekan pernah berceloteh, supaya malam2 nya tidak ada yang pacaran, katanya. :mrgreen:

  9. 18 rinaldimunir 7 January 2010 at 13:42

    Saya tahu kenapa ujian di Mesin malam-malam. Kata teman saya dari Mesin, ujian dijadwalkan malam karena kalau malam itu pasti tidak mungkin bentrok kuliah. Kalau dijadwalkan siang, susah cari jadwal ujian yang tidak bentrok karena peserta kuliah bisa dari berbagai angkatan yang tentunya punya jadwal kuliah yang berbeda-beda.

  10. 19 abri 12 January 2010 at 18:54

    sama sy jg jarang banget kerja klompok, krn alasan yang sama tdk mengerti…hahahahaha..

  11. 20 edratna 29 January 2010 at 11:18

    Saya pernah ke labdas di lantai 3, hanya untuk melihat sistem keamanannya, gara2 anakku sering banget kerja sampai tengah malam bahkan tidur di lab ini.

    Perpustakaan? Saya dulu malah sering ke perpustakaan, karena beli buku sendiri tak mampu….dan di perpustakaan kan bisa lirik-lirik mahasiswa keren dan rajin…hahaha…ternyata jodohnya bukan dari satu almamater….

  12. 21 tomy 3 March 2010 at 15:39

    men-DO ratusan mahasiswa pertahun? ngeri kali PTN-nya cat….untung tidak masuk sana. wkwkwk


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




telah mampir...

  • 85,261 hits

Welcome

Cuma sedikit catatandan curhatan yang terkadang tentang politik, terkadang sosial, terkadang juga ngasal, tapi itu semua bentuk aspirasi yang terkadang tak tersampaikan.

Twitter

  • Bismillahirrahmanirrahim.. 6 hours ago
  • Serius? Asik, untung masih ada ktm :)) RT @isfariani: Itu serius mahasiswa itb dpt diskon garuda 25%? Syg sekali gw bukan mahasiswa ITB lg 8 hours ago
  • Si Mirdad, org kantor gue, WN Iran. Main futsal jago banget. Blunder dikit bsk dy ga mau se tim lg sm kita. Persis ky temen SD gw dulu 11 hours ago
  • Lho, itu kan bis yang lewatnya 1/2jam sekali bro RT @donnypep: Bis apa yang demen bgt ngajakin penumpangnya sauna gratisan? #TransJakarta 18 hours ago
  • Ketika Abu Bakar mangkat, Umar memberhentikan Khalid jadi panglima & menjadikannya duta besar. Kata umar ini agar umat tak medewakan Khalid. 1 day ago

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.