Minggu pagi itu saya bangun. Melirik jam dinding dan berpikir sejenak. Ternyata Minggu pagi ini ada agenda saya bersama Komunitas Aleut buat ngaleut bragaweg. Segera saya ke lokasi tempat start ngaleut yaitu di depan gedung Merdeka jalan Asia Afrika Bandung. Di sana telah berkumpul dua puluhan teman-teman pencinta sejarah dan ngaleut Bandung. Ngaleut dalam bahasa Sunda adalah jalan-jalan bareng. Saya berpikir, ternyata masih ada generasi muda Bandung yang bangun lebih awal untuk melakukan hal-hal yang positif tanpa begadang di malam minggunya. Bangun pagi ngaleut sambil mengapresiasi peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di Bandung.

Bragaweg
Minggu itu agendanya adalah menelusuri jalanan Braga hingga finish di taman SMAN 5 Bandung. Lokasi start di gedung merdeka sambil ramah tamah antar anggota komunitas membuat kami lebih akrab satu sama lain. Saya baru bergabung dengan komunitas ini sebulan yang lalu. Anggotanya yang kebanyakan mahasiswa dari berbagai macam universitas yang ada di Bandung yang sama-sama memilik rasa cinta terhadap Sejarah dan Kota Bandung. Sangat terbuka dan terkesan tak ada sekat diantara kita membuat selama perjalanan kita bisa berbagi pengetahuan dan wawasan antar sesama anggota.
Dari gedung merdeka kita berjalan ke hotel preanger, salah satu hotel eksotis peninggalan kolonial di jalan Asia Afrika. Hotel ini pernah ditempati oleh delegasi Konfrensi Asia Afrika pada tahun 1955 dahulu. Lanjut ke titik KM 0+00 Kota Bandung. Di titik itu pernah berdiri seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang sewaktu meninjau pemabngnan jalan raya pos yang terbentang dari anyer ke panarukan. Beliau mengatakan dan berharap di tempat ia berdiri itu dibangun sebuah kota. FYI, Bandung ternyata memang dibangun oleh pemerintah kolonial. Ibukota Bandung yang awalnya berada di daerah dayeuh Kolot 10 Km ke selatan Bandung di pindahkan ke alun-alun sekarang agar terletak di pinggir jalan raya pos yang melewati Bandung, sekarang jalan yang membelah kota Bandung itu menjelma jadi jalan Asia Afrika.
Tak jauh dari tempat itu berdiri kokoh hotel Savoy Homann. Hotel bergaya kolonial dengan ciri khas lengkung di sisi timurnya. Gaya khas Arsitek Terkenal Albers. Di hotel ini juga pernah ditempati oleh Kepala negara negara pesarta KAA 1955. Juga, artis dunia Charlie Chaplin. Perjalanan di lanjutkan ke sepanjang Braga. Jalan Braga cukup unik, karena jalan ini tidak memakai aspal, melainkan memakai batu pualam. Kiri-kanan jalan ini terdapat bangunan-bangunan sisa kolonial sehingga jalanan ini membuat kita seolah berada di eropa.

di depan hotel preanger
Pada awal abad 20 an Braga merupakan pusat perbelanjaan bagi warga Eropa yang tinggal di sekitar Bandung. Rata-rata warga Eropa tersebut bekerja di perkebunan di sekitar Bandung dan sangat mapan dibandungkan warga pribumi pada saat itu. Banyak sekali gedung-gedung tempat hiburan bagi kaum planters tersebut, tempat pertunjukan musik, Bioskop, Tempat Pemandian dll. Nah, yang bikin miris yaitu fasilitas itu tak bisa dinikmati oleh kaum pribumi sendiri yang merupakan empunya negeri ini. Bahkan di gedung majestik yang merupakan Bioskop tempat pemutaran film pada zaman itu terpampang tulisan Anjing dan Pribumi dilarang masuk. Masyaallah, ternyata status kita disamakan dengan anjing pada saat itu.
Perjalanan dilanjutkan ke arah Balaikota Bandung, melewati Bangunan kuno Polwiltabes Bandung. SMP 2 Bandung yang merupakan tempat pendidikan menengah yang elite pada saat itu. Melewati tempat kompleks perkantoran militer yang juga warisan kolonial. Kolonial membangun negeri ini dengan apik, tertata dan terencana.
Perjalanan ini sangat menarik karena di sepanjang perjalanan saya merasa kembali ke suatu zaman yang tak terbayangkan oleh saya sebelumnya. Ketika kita bangsa indonesia menjadi babu bangsa asing yang bercokol di negara kita. Ketika kita hanya bisa melihat dari jauh kemewahan kaum kolonial di kampung kita sendiri. Ketika kita hanya bisa menelan air ludah karena tak bisa merasakan nikmatnya fasilitas-fasiltas tersebut. Sekarang, Kita sudah merdeka. Sisa-sisa fasilitasnya diwariskan kepada kita. Namun kita seolah menelantarkannya. Terletak bagaikan bangunan rongsok tua yang keropos di pinggir jalan.
Tulisan debut dari Catra! senang sekali ternyata Catra mendengarkan paparan para pemateri..
kalo ke braga saya pasti mampir ke Braga Permai beli coklat…
aleut itu jalan bareng toh… aku juga udah lama menjadi anggota sahabat museum (batmus) tapi akhirnya ngga pernah ikutan acaranya, cuman bisa denger cerita doang
EM
Seharusnya sih karena kita tidak bisa membangunnya jadi yah minimal kita merawatnya. tapi yah keadaannya seperti saat ini ketika urusan perut menjadi yang utama hahaha
catra, tulisannya keren+mantaf abiezzz
asyik selebritis populis..tapi miris emang ngeliat bangunan jaman dahulu ditelantarin gitu.
Menarik sekali kegiatan jalan bareng di waktu pagi ini, soalnya gak cuma bikin badan sehat dan pikiran jadi rileks, kegiatan juga diisi dengan mengenal lebih dalam lagi tentang situs-situs tertentu yang dilewati rute perjalanan Cara yang kreatif dan unik. Eh, sekalian bisa gandengan ama pacar kan Cat?
keren,,,
trxta bandung baxk peniggln2 sjarah yg luar biasa,,,,,,,,
kapan2 saya meluncur k sana d’…………….
hasil jalan2nya bisa di jadiin buku nanti nih cat..dengan gambar yg keren, great kegiatan yg asik dan bermanfaat
di pasuruan probolinggo sini juga banyak bangunan-bangunan kuno peninggalan belanda ndak terurus, sayang banget, padahal kalo terawat saya mbayangin kayak di Roma sana. *ngimpi*
Terus terang, seumur hidup saya baru dua kali berkunjung ke Bandung, itupun kunjungan yang sangat singkat. Jadi, saya belum bisa menikmati indahnya kota Bandung. Kalau ada kesempatan nanti, saya mau jalan-jalan pagi dengan Catra menelusuri kota Bandung, boleh kan Cat?
bilo2 uda ikuik lah cat……..