Flying Phobia
Setahun belakangan ini penerbangan menjadi hal yang menakutkan bagi saya. Penerbangan tidak lagi menjadi suatu hal yang menyenangkan. Tapi seperti menaiki wahana di dufan yang memacu adrenalin dan memmbuat jantung bekerja dua kali lebih cepat. Apalagi penerbangan malam yang terkenal dengan guncangannya.
Memang, seminggu sebelumnya saya mimpi pesawat yang saya tumpangi menukik tajam di tengah malam dan saya lihat di jendela temaram lampu-lampu kota yang bergerak kencang menandakan pesawat ini jatuh dengan kecepatan yang kencang. Tapi saya terbangun karena itu hanyalah mimpi. Berkeringat dengan nafas yang terengah-engah. Pengalaman terbang berpuluh-puluh kali tak mampu menghilangkan rasa phobia itu.
—
Pukul 01.00 dini hari saya berjalan kaki menuju pool Cipaganti di bilangan dipati ukur, Bandung. Pikul 04.00 subuh tak terasa saya sudah sampai di bandara Cengkareng Soekarno –Hatta. Cukup awal saya sampai sebelum terbang jam 6 ke Padang nanti. Ruang tunggu terasa sangat dingin karena suhu luar yang juga memang dingin. Hal itu membuat saya cukup gugup dalam menghadapi penerbangan nanti. Saya tak melihat anak muda seperti saya. Hampir semuanya orang tua atau bahkan sangat tua. Saya maklum karena ini bukan musim liburan pelajar.
Jantung semakin kencang berdetak ketika penumpang dipersilahkan menaiki pesawat. Bertambah rasa takut ini karena saya dapat bangku paling depan. Terbayang nanti jika pesawat menukik.
Pesawat lepas landas, terdengar mulut orang di sebelah saya sambil komat-kamit dan memegang tasbih. Alamak, tambah takut saya. Memang terasa berbeda ketika saya naik Garuda sebulan sebelumnya yang berisi para jagoan yang sok cool semua. Disini saya melihat orang yang juga sama-sama takut. Ditemani bapak-bapak bertopi haji ataupun ibuk-ibuk yang memakai baju kurung. Ya, tradisional sekali dan pesawat dipenuhi oleh komat-kamit kami sambil membaca doa. Ya, suasana Low Cost Carrier
Pesawat tiba-tiba bermanufer ke kiri. Saya terperanjat. Miring nya semakin tajam di jendela saya tampak perbukitan jelas dibawah jendela saya yang siap menanti. Saya berusaha mengurangi berat bada saya di kursi agar pesawat tak terlalu miring, bego saya keluar. Makin miring membuat reflek tangan saya memegangi lengan kursi sebelah kanan agar saya tak terlempar ke kiri What the hell am I doing, dude. Tangan semakin basah. Ibuk di sebelah saya terlihat memejamkan mata ketakutan sambil tak henti membaca doa
Tiba-tiba terasa pesawat turun secara mendadak. Busyet, perut terasa mengapung. Bibir saya pucat pasi, tangan dingin dan semakin basah. Kenapa rasa kampungan ini baru timbul sekarang. Ketika saya sudah diajari secara mendalam tentang mesin pesawat terbang, ketika saya diajari gaya angkat pesawat yang telah dedesain aerodinamis. Ilmu itu menjamin pesawat mampu terbang , tapi tetap saja tak mampu mengusir phobia saya
Tipe baru 900-er ini membuat pikiran-pikiran kotor saya berkecamuk. Kenapa perusahaan ini mau saja membeli pesawat kurus ini dan dengan bangga menyatakan perusahaannya sebagai pembeli pertama boeing dengan desain ini. Woy! Sadar woy, desain ini membuat pesawat ini bagaikan ojek yang selalu menggelinjang di atas sana. Tambah kesal saya pramugari menyalahkan cuaca di luar cukup buruk. Cuaca secerah ini dibilang buruk.
Tapi percuma saja saya kesal, wajar saja, you get that what you paid.Harga menentukan kualitas memang.
Saya menoleh ke sayap pesawat. Goyang-goyang bagaikan ekor layangan yang tak mampu membuat stabil pesawat ini. Saya tak mampu berpikir apa-apa lagi. Saya pikir saya tak akan bertemu dengan orangtua saya lagi. Suasana ini lebih efektif untuk tobat daripada ESQ-ESQan atau muhassabahan. Jelas sekali ini lebih mendekatkan diri kita pada tuhan. Oh no. Makin bertambah umur semakin cupu hambamu ini!
Cobain naik yang MD cat, itu baru seru. 900ER belum ada apa-apanya :p
Udah pernah kok, uda. Dulu.
MD kan langganan tergelicir. Pasti makin memacu adrenalin.
hehehe susah ya memang… mau pilih yg murah, tapi harus sport jantung.
Tapi sebenarnya yakin saja bahwa tidak apa-apa, karena hidup mati kan ditentukan Tuhan.
Kalau tidak mau sport jantung dengan pesawat, berarti tidak boleh merantau jauh-jauh
EM
risiko,cat. merantau jauh2 ga efisien banget kalo ga naek pesawat..
udah lama bgt ga mampir blog ini. -__-
memang menyeramkan, apalagi kalo mengingat kecelakaan pesawat yg suka terjadi kemaren2.
dan inget kualitas pesawat kita ga sebagus diluar. hahaha
yg penting berdoa dulu deh sebelum terbang.hihihi
wah, saya pernah juga punya pengalaman begitu cat,
waktu itu penerbangan dari kota Bima ke Denpasar
menggunakan pesawat yg masih pakai propeler
lupa tipenya apa.
yg pasti itu pengalaman naik pesawat yg seru.
mampir2 yah…
gyahaha….
semangat gan. sering2 terbang.
jadi nggak pengen naek pesawat (-_-”)
coba naik twin otter di pedalaman papua deh, yang mana pilotnya sambil buka jendela & ngerokok, terus penumpangnya ada yang bawa kambing di kabin
)
coba naik twin otter di pedalaman papua deh, pilotnya sambil buka jendela & ngerokok, terus penumpangnya ada yang bawa kambing di kabin
)
hehe..lucuc lucuuu
hahaha…ondeeh cat samo waak..
bal bahkan selama setahun ko phobia naiak pesawat semakin menjadi jadi..