Semester ini adalah semester paling menarik bagi saya dalam menempuh pendidikan S1. Karena sudah memasuki tingkat akhir sudah selayaknya kita memilih konsentrasi dan memilih mata kuliah yang kita inginkan sesuai dengan minat kita.
Dalam kurikulum pendidikan S1 Teknik Mesin ITB, mahasiswa diberikan 15 sks pilihan, minimal 6 diantaranya mata kuliah jurusan dan sisanya boleh dari mata kuliah umum maupun dari jurusan lain. Saya berpikir daripada mengambil mata kuliah umum alangkah bermanfaatnya bila mengambil mata kuliah yang serumpun dengan ilmu kita. FYI, Teknik Mesin, Teknik Material dan Aeronotika-Astronotika merupakan jurusan yang memiliki hubungan yang sangat erat. Mereka tergabung dalam satu fakultas, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, FTMD. Hampir semua dosennya tamatan Mesin.
Salah satunya saya mengambil mata kuliah Material Lanjut, Advanced Material. Pada mata kuliah ini saya berkesempatan belajar dengan Prof. Rochim Suratman, satu dari dua Professor Jurusan Teknik Material, lulusan KUL Leuven Belgia. Sangat beruntung karena kelas ini hanya memiliki dua orang mahasiswa dan Professor pun bersedia membuka kelas tersebut.
Professor di ITB memang tidak banyak, tidak gampang untuk mendapatkan gelar tersebut. Di jurusan Teknik Material hanya ada dua Professor, di Teknik Mesin juga cuma delapan Professor dari 50an total dosen. Langka. Memang, saya sebelumnya juga sudah sering kuliah dengan dosen pengajar Professor, namun kali ini saya terasa dapat sesuatu yang lebih tak hanya di bidang Mechanical, Materials, namun juga ke hal-hal yang lebih filosofis. Menarik.
Awalnya saya tak memiliki ketertarikan pada pelajaran-pelajaran material dan manufaktur. Saya lebih tertarik di bidang Konversi Energi. Namun dengan Prof. Rochim mata kuliah material ini terlihat sangat menyenangkan. Walau ilmu beliau sangat tinggi namun dalam mengajar beliau sabar dalam menyampaikan dan meyakinkan hingga kita benar-benar mengerti. Suasana belajar pun sangat nyaman, belajar di ruang rapat, kadang di kantor beliau kadang di kelas besar walau isinya cuma kita berdua.
Rendah hati, hampir empat tahun saya merasakan kuliah di kampus gajah ini, baru kali ini ada Professor menawarkan makanan dan minumannya. Pakem bahwa Professor Teknik itu kaku hilang sudah. Kelas terasa cair membuat pelajaran terasa menyenangkan dan cepat diserap oleh kepala. Di sela-sela pelajaranterkadang kita terlibat dalam diskusi, pemikirannya luas dan inspiratif. Beliau pun tak egois, beliau mau mendengarkan dan menghargai saya dalam mengutarakan pendapat.
Kita pernah membicarakan sistem pendidikan di Indonesia yang amburadul, semua orang ingin menjadi sarjana. Orang Indonesia yang mengkultuskan gelar padahal kualitas tidak dipertimbangkan. Mari kita lihat bersama, berapa banyak Sarjana yang menganggur. Ada puluhan PTN yang memproduksi ratusan ribu sarjana tiap tahun, belum ditambah dengan seribuan PTS yang ada di Indonesia. Alamak.
Keprofessian, Beliau juga pernah cerita bagaimana kontrasnya suasana kemahasiswaan disini dengan luar negeri. Disana mahasiswa berhimpun benar-benar untuk keprofesian mereka bukan untuk di push-up dan teriak-teriak ndak jelas.
Santun dalam menyampaikan sesuatu, beliau yang angkatan 1967, dimana orang tua saya baru masa kanak-kanak, tapi dalam bertutur kata sangan santun. Entah itu bicara sesama kolega dosen, kepada saya sebagai mahasiswanya maupun kepada petugas kebersihan di gedungnya.
Satu hal yang paling saya ingat adalah, ekspektasi beliau terhadap lulusan mesin, agar jangan terpaku pada kelompok keahlian saja. Misal KK Konversi Energi selayaknya memiliki pengetahuan yang cukup di bidang Material, Manufaktur dan Perancangan. Begitu juga sebaliknya. Sebab di dunia kerja nanti kita akan dikenal dengan Mechanical Engineer, bukan sebagai Energy Conversion Engineer.
Terima kasih Prof, yang sudah sabar ngajarin saya material lanjut selama satu semester ini. Semoga di lain waktu saya bisa menimba ilmu lagi.
di jurusan awak cuma ada 1 profesor…
dan orang awak…
seru belajar dengan profesor…
karna beliau seperti ilmu padi,
Halo Bung ALfer, Sepi sekali jumlah Professor di Prodi OSeanografi. Benar sekali bung, Beliau seperti Ilmu Padi, makin berisi makin rendah hati nya
Kapan lulus nih, Bung?
Salut..!!
Professor yang saya temui banyak “jauh” dengan mahasiswa, idealis dan tertutup. Namun di tulisan ini saya sangat salut dengan beliau. Sampaikan salam saya pada pak rochim ya
kalau belajar samo prof. emang mantab.. ilmunya ganas..!!
wah jarang2 tuh Bang prof kayak gitu. Biasanya kalo ilmunya udah tinggi mereka tertutup sama mahasiswa dan nggak mau tahu dengan mahasiswa nya. Mudah2an makin bnyak dosen seperti beliau.
Kebanyakan memang kayak gitu bro. Makin susah tangan ini untuk mencapai beliau, walaupun hanya berinteraksi skala kecil. Amin. Semoga makin banyak dosen seperti beliau
Salam
Wah, sangat menginspirasi, Cat. Mungkin di tulisan selanjutnya bisa ditulis salah satu pengalaman di kelas profesor itu.
Halo Mbakyu, makasih udah mampir. Sejak kapan ngeblog mbak?
itutuh, pengalamannya kan udah ada di bawah, kita ngobrol2 tentang banyak hal. dan kepribadian professor itu bikin saya kagu,m
Beruntunglah Catra mendapatkan kesempatan belajar di kampus hebat dan beroleh dosen yang juga sangat hebat.. Insya Allah, Catra pun akan ikutan hebat nantinya
ciee.. foto bareng professor gan cat mah.. mudah2 juga bisa jadi profesor gan..
Ah, tidak semua mahasiswa seberuntung engkau, Cat. Berbahagialah.
Astaga cat……………..bang ndak meng comen tentang profesor yg benar benar hebat tuh cat, tapi bg tau catra menuliskan setulus hati dalam keadaan emosi yang sangat membuncah, sehingga tulisan catra yg sikat ko, mengalir dan sangat hidup. TULISAN PALING BAGUS MENURUT BANG hebat hebat….dsalutttt
Kunjung balik gan! ke http://sukasir.wordpress.com
Jadi pengen kenal sama pak Prof
U are lucky.. andaikan lbh banyak pendidik yang seperti beliau…
Ilmu padi bana tuh profesornyo.Urang awak atau bukan? Kalau bukan, mudah-mudahan berikutnyo Prof. Catra juga demikian dalam kesehariannya
biasanya yg dekat ama professor, bakal jadi professor loh..*biasanya*
haduh angkatan 1967? Aku masih di perut tuh
Kalau tingkat 4 di Jepang ada kelas seminar, ya suasananya seperti Prof+Catra itu lah. Sarana untuk diskusi dan presentasi.
EM
Saya juga baca tulisan Pak Rinaldi Munir dosen TI, di kampus berlogo gajah ini susah untuk mendapatkan gelar profesor. Gpp lah, sesuatu yang langka itu biasanya memang berharga, daripada banyak tapi gak mutu.
itulah orang besar menurut saya, seperti ilmu padi makin berisi makin merunduk… waw… keren, mampir juga ke lapak ane gan IWAP-48
yobana lamak kuliah jo apak tu mah cat. kalau masih ingin kuliah, den nio maambiak kapsel material yg A nyo lo mah