Regen Padang Terakhir

Pulau kecil di depan Painan di selatan Padang, namanya Pu­lau Cingkuk. Kata orang, cingkuk berasal dari nama sejenis monyet­. Apa mungkin berasal dari kata Chinko, bahasa Portugis? Kota Natal, nama itu kelihatannya juga tidak dari bahasa asli kita seperti juga Ophir. Begitu pula kota pantai Salido, di selatan Padang. Mungkin sekali kata Salido berasal dari bahasa Portugis .Residen Mac Gillavry dalam laporannya tanggal 21 April 1821 pernah pula menulis bahwa di selatan Padang, menurut eerita rakyat setempat, pernah terdapat reruntuhan rumah dan gudang-gudang yang dahulu dibuat oleh bangsa Portugis.

Anda tentu kenal lagu Kaparinyo yang begitu populer di Padang, Lagu ini, walaupun dengan sedikit perbedaan, hingga kini rnasih dinyanyikan di Portugal. Bagaimana pula dengan pakaian mempelai pria itu, yang sering disamakan dengan pakaian “matador”? Dan tarian yang dulu digemari rakyat (antaranya suku Nias) dinamakan balanse! Dalam cerita-cerita rakyat, sering disebut Raja Sipatoka. Apakah yang dimaksud Por­tugal? Di seberang Batang Arau, dekat bukit Gado-gado terdapat sebuah batu besar penuh tulisan berhuruf Latin. (Karena itu bukit ini dulu disebut Bukit Batubasurek). Ada yang mengatakan ini peninggalan orang-orang Belanda yang pertama datang di Padang. Pendapat lain mengatakan batu ini ditulis oleh orang-orang Por­tugis. Begitu pula halnya dengan sebuah pintu masuk sebuah tambang (diduga mencari emas), juga di bukit tersebut. Mungkinkah dikerjakan oleh bangsa Sipatoka?

Jadi, banyak tanda-tanda bahwa orang Portugis pernah bermukim di Padang atau kota-kota pantai barat Sumatra lainnya. Sayang, kita tidak pernah membaca buku atau karangan tentang mereka di sana kecuali hanya secuil-secuil saja. Sedangkan kita tahu semua, bangsa Portugis dimanapun mereka berada , meninggalkan catatan-catatan lengkap. Tetapi mengapa tidak ada catatan tentang Sumatra Barat, khususnya Padang di perpustakaan Paris, penulis pernah mencari-cari sumber, tetapi tidak ada. Begitu juga di Madrid. Yang kita ketahui ialah yang itu-itu juga, Sangat umum. Yakni bahwa mereka pernah berlayar ke pantai Sumatra menyebut nama Barus, Pancur, Pariaman, dan Tiku, seperti yang ditulis Tome Pires dalam Suma Oriental-nya atau Joao de Barros dalam De Asia dan beberapa cuilan lagi. Pernah saya minta banuan seorang ahli Portugis di Nusantara, bangsa Belanda bernama H. Jacobs (pendeta Jesuit di Roma) dan beliau ini berbaik hati me­ ngirimi saya surat-surat, Tetapi apa yang saya tanyakan, diakuinya sendiri, tak mampu dijawab.

Kesimpulan yang dapat ditarik ialah bahwa mereka yang pernah sampai di Padang atau sekitarnya, tidak kembali lagi ke tanah air mereka. Mungkin karena kapalnya hancur, mungkin mereka dibunuh (di Padang, kemungkinan ini kecil), atau mungkin karena gaya tarik wanita-wanita seternpat begitu hebat hingga mereka lupa kampung halaman. Bahwa mereka pernah bermukim di sana sebagai bangsa Eropa pertama, ini boleh dikatakan pasti. Kalau tidak, dari mana pengaruh yang kita sebut tadi?

Mengenai Padang, hanya ada setelah bangsa Belanda sampai di sana, ditambah dengan catatan bangsa Perancis yang lebih dahulu da­ tang dari Belanda. Cerita-cerita sumber domestik, yang tertulis, baru muncuI lama kemudian. Tetapi bahan-bahan tertulis asal asing itu hanya merupakan pengalaman   penulisnya.

Dalam kumpulan karangan-karangan cukup tebal buah tangan PA Tiele berjudul “Bangsa Eropa di Kepulauan Nusantara” terda­pat sedikit tentang pantai barat Sumatra. Kebanyakan mengena peranan  Portugis/Spanyol di India, Malaka, Jawa dan khususnya di daerah timur Indonesia yang dapat dibaca dimana-mana. Walaupun dalam karangan tsb tidak khas disebut nama kota Padang,

 

Padang Riwayatmu Dulu

Image result for padang riwayatmu dulu

Oleh Rusli Amran

Bab I Padang Tempo Doeloe

Hampir sepanjang abad yang lalu, Padang adalah kota “metropolitan” terbesar di seluruh Pulau Sumatra. Selain mempunyai banyak hubungan dagang langsung dengan bangsa-bangsa asing, kota ini merupakan pula pusat kekuatan militer Hindia Belanda, apalagi selama berlangsungnya Perang Aceh. Bahkan daerah Sumatra Baarat pada umumnya dianggap oleh pemerintah kolonial sebagai salah satu daerah penting. Dari daerah ini dilancarkan banyak ekspedisi militer (more…)

Sumatra’s Westkust Plezier (Kawasan Mandeh)

Penat dengan kebisingan Jakarta, debu, polusi, macet, mesti diseimbangkan dengan wisata-wisata alam yang bisa menjadi stress relieved. Ceritanya waktu liburan lebaran kemarin, tiba-tiba tanpa rencana saya ingin menjelajah wilayah-wilayah yang seru di Sumatera Barat. Tanpa banyak basa-basi saya menghubungi beberapa teman yang juga ingin menikmati keindahan wisata Pantai di Sumatera barat. Terkumpul 10 orang yang rata-rata merupakan pekerja stress Jakarta Iin si auditor Deloitte, Para engineer Anggi, Degi, Rido, Isan sahabat kecil saya yang udah jadi polisi lagi mudik juga teman adik saya yang ingin (more…)

Postmodern Jukebox

Saat ini saya berada dalam fasa jenuh dalam musik. SD saya punya seluruh band-band Indoneaia, SMP saya membawakan banyak lagu “underground” Metalik Klinik 1-6 di featival2, zaman SMA saya sering membawakan lagu-lagu bernuansa funk-jazz di berbagai acara. Zaman kuliah tiba-tiba dikenalkan dengan musik-musik etnik tadisional.

Scott Bradlee & Friends

Sekarang saya memasuki taraf abu-abu dalam musik. Ingin sesuatu yang unik.

Ceritanya sekarang saya lagi gandrung mendengarkan musik2 vintage early 1900s jazz. Salah satunya si scott Bradlee dengan Postmodern Juke nya.

Si Scott Bradlee ini lahir di Long Islands NY, yang jelas dia salah satu musisi jenius. Dia dan Postmodern Jukebox ansambel bisa membuat video2 asik dengan homenade video saja.

Sebenarnya yang membuat saya tertarik karena gaya musik nya yang Vintage 1930s, kadang berwarna blues, jazz atau country. Video klip yang kebanyakan dibuat di ruang tamu rumah nya. Walau begitu dia mencoba untuk tampil seolah-olah dalam pertunjukan professional.

Dia mendidik penonton tentang gaya musik awal abad 20. Bagaimana menginterpretasikan elastisitas bentuk musik. Dan yang paling keren: dia mengacaukan konteks budaya, dia menyatukan generasi dan dia berani melanggar rules konvensional mengenai musik.

Dia memberi ruang kepada para pendengar musik yang telah terlalu bosan dengan musik-musik yang gitu2 aja.

Kemana lulusan ITB 2007 setelah kuliah???

Setelah lulus beberapa tahun yang lalu, akhirnya dirilis juga Tracer Study ITB 2014. Tracer study saat ini memetakan persebaran alumni ITB angkatan 2007 di dunia kerja. Sebelum nya kita angkatan 2007 mengisi kuisioner yang dikirim oleh PIC masing-masing jurusan angkatan kita.

Persebaran Lulusan Mesin ITB 2007

Persebaran Lulusan Mesin ITB 2007

Tracer Study atau yang sering disebut sebagai survey alumni atau survey “follow up” adalah studi mengenai lulusan lembaga penyelenggara pendidikan tinggi. Studi ini mampu menyediakan berbagai informasi yang bermanfaat bagi kepentingan evaluasi hasil pendidikan tinggi

(more…)

Kita Ras Inferior???

Kemarin saya menonton Hitam Putih, talkshow yang dibawakan oleh Deddy Corbuzzier. Saat itu bintang tamu nya adalah Sophia Latjuba, memang saat ini umur Sophia telah lewat angka 40 tahun. Dedy memberikan deskripsi kepada penonton bahwa bintang tamu nya saat ini sangat spesial, wanita cantik yang telah berumur lewat dari 40 tahun. Setelah Sophia Latjuba muncul, Dedy tak henti-hentinya memuji bahwa Sophia begitu perfect, Sophia pun menjawab dengan tersipu-sipu dengan bahasa Indonesia nya dengan logat yang ke-jerman-jermanan.

Setelah itu saya buka instagram di HP, ada commercial break dari akun lucu yang saya follow. Disitu dia endorse produk hijab yang lagi ngetren, hijab yang banyak lapisan-lapisannya. Saya pikir untuk memasang hijab ini memang butuh kesabaran yang tinggi. Model nya adalah seorang wanita yang sepertinya sedikit berwajah timur tengah. Bukan, bukan arab yaman atau arab Nejd yang ada di Saudi. Sepertinya dia punya campuran darah Arab Levante atau Persia. Saya emang agak susah membedakan Wajah Levante dengan Persia, namun saya bisa membedakan Arab Nejd/Yaman dengan Arab Persia/Levant. Tapi poin nya bukan disitu, komen-komen di foto nya banyak menyerukan “subhanallah”, memuji keindahan makhluk tuhan tersebut. (more…)

Yasmine

Film terbaru dari negara tetangga kita Brunei setelah lama dunia perfilman mereka vakum. Film yang merupakan hasil kolaborasi dari banyak negara dan diperankan oleh pemain dari 3 negara. Brunei, Indonesia dan Malaysia. Seperti apakah hasilnya?

Semalam saya sempat-sempatin untuk menonton tayang perdana film ini. Cerita film diawali dengan sekilas adegan pertarungan silat dan kemudian masuk memperkenalkan karakter film ini yaitu Yasmine Fatia (Liyana Yus), remaja putri yang ceria dan hanya tinggal berdua dengan sang ayah Fahri (Reza Rahadian). Yasmine mengira dia akan bisa berkumpul lagi dengan para sahabatnya di sekolah unggulan tapi ternyata tidak. Karena masalah keuangan sang ayah, Yasmine terpaksa pindah ke sekolah yang biasa-biasa saja. (more…)